Puisi: Bersyukur

Facebooktwittergoogle_plusinstagramby feather

Bersyukur

Ayunan kaki mengebas debu
Deru motor tak peduli jalur
Gas mobil diinjak tanpa risau
Bahkan napas pun tak disadar

Taunya hari akan berakhir
Petasan menderu memekak telinga
Langit menjadi benderang oleh sinar
Klakson kendaraan pun menusuk telinga

Saatnya diam, merenung dalam sunyi
Dalam sujud, membiarkan Ia berkata lirih
Menyadari segala yang Ia berikan sebagai anugerah
Tanpa takut akan diambilNya kembali

Sumeleh marang Gusti
Aku ini hanyalah debu
Apalah hakku menuntut ini dan itu
Biarlah kehendakNya terjadi, sekarang dan nanti

Jakarta 03.01.18

Facebooktwittergoogle_plusby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.

Leave a Reply