Inikah Pernyataan yang Membuat Gubernur Anies “Dipecat” Jokowi?

Facebooktwittergoogle_plusinstagramby feather

Pagi ini saya membaca berita di Kompas.Com yang berjudul “Anies: 10 Proyek di Jakarta Tak Punya Analisis Dampak Lalu Lintas.” Spontan saya kaget. Kenapa gubernur baru ini tidak mencari solusi atas kemacetan yang terjadi? Kenapa dia tidak juga memaparkan progam kerja pembangunan Jakarta yang pembangunan infrastrukturnya telah lama tertinggal?

Berikut pernyataan Anies yang mengindikasi bahwa orientasinya ke belakang dan ribet dengan urusan administrasi tanpa berpikir solusional.

“Ternyata di 10 titik itu tidak pernah dilakukan amdal lalin, analisis mengenai dampak lingkungan lalu lintas sehingga proyek-proyek itu dilakukan, punya dampak lalu lintas yang tidak pernah diantisipasi sebelumnya,” kata Anies.

“Itu yang nanti akan kami evaluasi, kami akan cek. Ini kenyataannya sudah jalan, ini hal yang mengemuka dalam pertemuan dan nanti kami akan periksa semuanya lagi,” katanya.

“Kalau menurut aturan, amdal lalin dulu, dari amdal lalin baru keluar IMB, baru kemudian bisa berjalan. Nah, amdal lalin-nya tidak ada, IMB-nya enggak mungkin keluar, proyeknya sudah jalan. Nanti dicek (IMB-nya),” kata Anies.

Tipe Jokowi

Indonesia pada umumnya dan DKI Jakarta pada khususnya sudah puluhan tahun terbawa arus wacana. Hampir semua proyek yang berjalan sekarang, ternyata kajiannya sudah ada puluhan tahun silam. Ambil contoh proyek MRT yang ternyata sudah dikaji sejak tahun 1986 dan akhirnya Jokowi pada Oktober 2013, kala itu Gubernur DKI Jakarta, mengeksekusi pembangunannya. Setelah 4 tahun dibangun, hingga September 2017 progres konstruksi MRT Jakarta fase I Lebak Bulus-Bundaran HI telah mencapai 80,15%.

Semangat kerja Jokowi tetap melekat saat dia melenggang ke Istana Negara. Dia memilih para menteri dengan kriteria bisa mengikuti ritme kerjanya. Tageline “Kerja, Kerja, Kerja” didengungkan sejak ia menjabat Presiden dan terus menjadi ritme kerja kabinetnya sampai sekarang. Bahkan setiap tahun ia selalu mengangkat tema “kerja” dalam metode kerja pemerintahannya.

Tahun 2015, Jokowi mengangkat tema “Ayo Kerja”. Tahun 2016, Jokowi mengangkat tema “Kerja Nyata”. Dan tahun ini, tema yang diangkat adalah “Kerja Bersama.” Ketiga tema tersebut menjadi guideline kabinet kerja Jokowi untuk kerja “cepat”.

Kerja cepat dengan target tinggi untuk 3 prioritas pembangunan (pembangunan infrastruktur, pembangunan manusia, dan melakukan deregulasi kebijakan ekonomi) tidak mungkin tanpa terobosan. Lihatlah bagaimana terobosan di bidang infrastruktur, Jokowi perintahkan untuk melakukan pembangunan masif dengan waktu kerja 24 jam selama 7 hari.

Di bidang pengelolaan hutan, Jokowi juga minta terobosan. Sehingga pengelolaan hutan memiliki dimensi ekonomi juga lingkungan. Pengelolaan hutan juga harus memberi manfaat bagi masyarakat sekitar.

Sektor energi juga sama. Jokowi minta supaya ada kebijakan BBM Satu Harga di seluruh Indonesia. Supaya warga negara Indonesia di wilayah Timur tidak terasing. Mereka juga bisa menikmati harga BBM yang sama murahnya dengan warga negara lainnya yang tinggal di Indonesia bagian barat.

Intinya, Jokowi ingin orang yang ada di sekitarnya bisa bekerja cepat, punya langkah solusional, tidak terbelenggu oleh aturan administrasi yang menghambat kerja, dan tidak bertele-tele. Dalam satu kesempatan mengomentari kinerja Menteri Susi Pudjiastuti, ia mengatakan “Ya, saya memang butuh orang ‘gila’ untuk melakukan terobosan.”

Saya kira, kalimat Jokowi telah menjadi kristalisasi semangat kerja yang dimilikinya dan wajib diikuti oleh semua orang di sekitarnya, terkhusus para anggota kabinetnya. Tujuannya jelas, supaya target-target pembangunan dengan 3 prioritas di atas dapat tercapai. Bagaimana kalau tidak bisa mengikuti? Dugaan saya, mereka akan dicopot dan diganti dengan orang lain yang kiranya bisa mengikuti ritme kerja Jokowi.

Dari sekian menteri yang dicopot Jokowi, ada nama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan. Pertanyaan yang ramai mengemuka “Kok Anies yang orang dekat Jokowi bisa diganti?” yang juga membuat saya bertanya-tanya. Ada banyak spekulasi mengemuka. Ramai lagi saat Anies maju di Pemilukada DKI Jakarta. Tetapi tetap saja spekulasi.

Namun pernyataan Anies pagi ini membuat saya berpikir, ada dugaan ia diganti Jokowi karena tidak bisa mengikuti kerja Jokowi yang menuntut kecepatan, terobosan, inovatif, dan berorientasi pada pemecahan persoalan bukan berkutat pada hambatan dan kajian-kajian.

Kembali ke pernyataan Anies pagi ini. Senyatanya, ia sudah diwarisi 10 proyek infrastuktur yang sedang berjalan. Untuk memulainya saja, saya yakin itu sebuah perjuangan. Sudah saya singgung di atas, puluhan tahun Indonesia dan Jakarta pada khususnya dibelenggu oleh kajian dan wacana. Kita tidak bisa maju kalau cuman berwacana. Seharusnya Anies tinggal menyelesaikan dan mencari solusi bagaiman kemacetan bisa diminimalisir.

Lebih dari itu, mbokya mulai kerja, kerja, kerja. Jakarta sudah masuk musim hujan. Ayo mulai kerja bagaimana mengantisipasi musim hujan biar Jakarta tidak “tenggelam”. Ayo diterapkan bagaimana menata penduduk di badan sungai tanpa menggusur tetapi juga tidak membuat Jakarta kebanjiran di saat musim hujan. Ayo terapkan solusi mengatasi PKL Tanah Abang yang katanya sudah punya cara jitu. Ayo tunjukkan solusi berkelanjutan dari dampak penutupan Alexis. Dan masih banyak PR lain yang menuntut kerja, kerja dan kerja.

Semangat kerja ya Pak Gubernur Anies Baswedan.

 

Facebooktwittergoogle_plusby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.

Leave a Reply