Bulan Tertib Trotoar Itu Cara Jadul untuk Tertibkan Masyarakat

Facebooktwittergoogle_plusinstagramby feather

Percaya atau tidak, Negara Indonesia itu penuh dengan kegiatan kampanye, gerakan ini, program itu, yang di baliknya terselip anggaran. Memang tujuannya baik, yang rata-rata ingin mewujudkan masyarakat Indonesia yang tertib dan teratur. Tapi senyatanya ada cara lain yang efektif dan efisien, artinya tepat sasaran dan tidak membutuhkan banyak duit.

Gerakan masyarakat tertib yang terbaru keluar dari Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat yang menginisasi kegiatan Bulan Tertib Trotoar selama Agustus 2017.  Tujuannya adalah ingin mengembalikan fungsi trotoar untuk pejalan kaki, bebas dari “jajahan” pemotor, pedagang kaki lima, maupun tempat parkir.

Sebelumnya ada kampanye “Bersatu Keselamatan Nomor 1” dari Kepolisian Republik Indonesia (Polri) yang sudah berjalan beberapa tahun. Kampanye ini senada dengan kegiatan serupa yang rutin dilakukan tiap tahun seperti “Operasi Patuh,” “Operasi Simpatik,” “Operasi Zebra,” dan berbagai kampanye yang disosialisasikan di berbagai media. Apakah ini efektif? Jika ada hasilnya, apakah sebanding dengan biaya yang dikeluarkan?

Menurut saya, sudah saatnya bagi kita untuk mencoba pendekatan baru dalam melakukan kampanye. Tidak cukup hanya dengan menyajikan tontonan “86” atau “OK-JEK.” Karena apa yang kita temui di jalanan jauh dari apa yang ditayangkan. Mari kita melakukan pendekatan kampanye dengan melibatkan transportasi online, khususnya ojek.

Kenapa ojek, karena mereka jumlahnya banyak dan memiliki karakter yang kuat. Siapa yang tidak mengenal para pemotor berseragam hijau atau hitam-jingga? Inilah modal bagi kita untuk menempelkan pesan kampanye kepada para pengguna jalan lain. Caranya adalah dengan menggunakan kekuatan simbol. Seragam ojek online adalah simbol yang sangat kuat.

Kekuatan Simbol

Pada dirinya sendiri, simbol itu netral. Pesan yang dibawa simbol, entah netral-positif-negatif tergantung dari siapa yang menyematkan padanya dan tergantung pribadi yang menafsirkannya. Itulah mengapa Professor Ernst Cassirer, penulis buku seri The Phylospohy of Symbolic Forms, menyebut manusia adalah animal symbolicum.

Ada banyak contoh kekuatan-kekuatan simbol dalam kehidupan manusia, karena simbol masuk ke seluruh sendi kehidupan. Sedikit saja gerakan kita sudah menjadi simbol tertentu dan saat kita berucap maka kata atau bahasa kita pun adalah juga simbol. Namun yang ingin saya soroti adalah simbol yang berkorelasi dengan gerak horizontal dan vertikal dalam masyarakat, karena simbol juga berhubungan erat dengan kekuasaan dan berhubungan dengan Yang Di Atas.

Secara horizontal bisa dilihat bagaimana kerasnya reaksi aparat atau penguasa terhadap simbol-simbol tertentu seperti lambang palu arit, bendera bintang kejora, bendera RMS, atau sesuatu yang menunjukkan Gerakan Aceh Merdeka. Secara vertikal juga tidak kalah “seram.” Dalam kaitannya dengan ke-Tuhan-an, simbol diartikan sebagai tanda kehadiran Tuhan. Kertas yang ada lafadz Allah jika dibakar oleh seseorang berpotensi menggerakkan massa untuk menggelar aksi protes. Atas nama simbol, aparat bisa mengerahkan kekuatannya untuk menangkap orang. Dan seseorang atau kelompok masyarakat bisa menyerahkan nyawanya untuk membela simbol tertentu.

Bisa dikatakan, kekuatan simbol pada dasarnya memiliki sifat emotif yang mampu menggerakkan seseorang untuk bertindak. Semakin simbol tersebut disakralkan maka dayanya akan semakin besar, tinggal diarahkan oleh “pemberi makna simbol,” mau ke arah konstruktif atau destruktif. Hal ini bisa terjadi karena kita terjebak dalam memahami simbol. Sebagian besar dari kita menganggap bahwa simbol adalah substansi, padahal dia hanyalah entitas fisik.

Ojek Online sebagai Simbol

Namun demikian, kita bisa memanfaatkan kekuatan simbol ini untuk menertibkan masyarakat Indonesia. Salah satu caranya adalah menggandeng semua perusahaan transportasi online, terutama ojek. Pemerintah, dalam hal ini bisa Polri dan Kementerian Perhubungan, bisa mewajibkan semua mitra ojeknya untuk menaati seluruh peraturan lalu lintas. Jika melanggar maka akan diberi sanksi, jika patuh akan dapat apresiasi yang bentuknya tergantung dari perusahaannya. Untuk mengikat, sanksi bisa diberi dari perusahaan bisa juga dari penengak hukum. Penegak hukum bisa memberi sanksi lebih karena mereka membawa simbol yang harusnya memberi contoh bagi pengguna jalan yang lain. Tentu, hal ini diimbangi dengan apresiasi yang sepadan.

Saya percaya kalau semua pemotor seragam ini kompak menaati peraturan, maka pengendara lain akan segan. Saat ini kenapa pelanggaraan begitu masif, karena mereka inilah yang sebagian besar memenuhi bahu jalan, yang berhenti di atas zebra cross saat lampu merah, yang melawan arus, yang mengangkangi trotoar. Yang tidak setuju pasti bilang, “Itu kan oknum.” Bagi saya, oknum kok “banyak.”

Saya katakan “banyak” karena melihat satu saja itu sudah terekam di otak. Karena ada simbol yang melekat pada mereka. Seperti saya melihat ada polisi yang lewat di busway minggu lalu pasti saya ingat, ketimbang ada orang biasa melintas di busway hari ini.

Seragam yang dikenakan ojek online adalah sebuah simbol yang memiliki kekuatan. Dulu mereka hanyalah ojek pangkalan, tetapi dengan seragam mereka telah memiliki simbol status yang cukup membanggakan. Di jalan mereka bisa saling bertegur sapa dan melepas senyum walau tidak kenal, hanya karena mengenakan seragam yang sama. Mereka mungkin sudah gengsi membeli bensin eceran, maka sudah ikut ngantri di SPBU Shell. Jika ada salah seorang yang meninggal, mereka konvoi mengawal kepergian temannya. Jika ada yang terlibat kecelakaan, maka teman-teman sejawat siap membela tanpa tahu siapa yang salah. Kasus terakhir, mereka berani memblokade Jalan Casablanca menuju Kampung Melayu sebagai protes tindakan anggota polisi lalulintas yang melarang mereka melintasi Jalan Layang Non Tol Kampung Melayu-Tanah Abang atau JLNT Casablanca. Sekarang bayangkan betapa besar (potensi) kekuatan simbol ini bagi para pengendara ojek online.

Potensi ini harus diarahkan kepada yang benar. Rangkul mereka untuk menjadi agen Tertib Trotoar dan duta Bersatu Keselamatan Nomor 1. Jangan pilih agen atau duta dari muda mudi yang ganteng atau cantik saja, tapi merekalah duta sebenarnya karena tiap tarikan napasnya ada di jalanan. Gunakan potensi mereka supaya menggerakkan pengendara lainnya untuk tertib. Jika mereka tertib maka pengendara lain yang “tidak punya simbol” karena “tidak berseragam” akan segan dan mengikuti perilaku mereka. Jika ini terjadi, yakinlah derajat mereka benar-benar naik dan sangat membanggakan.

Supaya berhasil tentu harus ada kontrol. Terapkan sistem reward and punishment. Berikan penghargaan berupa bonus dan beri sanksi berjenjang bagi mereka yang melanggar. Mereka sangat menghormati sistem ini, karena dalam keseharian saja mereka sangat mengharapkan kita memberikan “bintang” setelah kita memakai jasa mereka. Pengalaman saya naik transportasi online, saya akan beri nilai maksimal bagi yang ramah dan tertib dalam berkendara. Sebaliknya bagi yang tidak tertib dan kasar di jalan pasti akan saya beri rating terendah.

Cara ini patut dicoba karena semua sumber dayanya sudah ada, tinggal kemauan dari pengambil kebijakannya saja. Memang cara ini tidak populer karena tidak ada uangnya. Tidak ada anggaranya. Toh kalau ada pasti tidak besar karena hanya buat surat edaran saja ke perusahaan online. Tapi kalau berpikir untuk kepentingan masyarakat luas dan kemajuan budaya Indonesia kenapa harus berpikir untung rugi. Masak kita mau terus disebut sebagai negara dengan masyarakat yang tidak tertib?

Facebooktwittergoogle_plusby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.

Leave a Reply