Basilica del Santo Niño: Simbol Katolisitas dan Harapan Menuju Filipina Sejahtera

Facebooktwittergoogle_plusinstagramby feather

Matahari terasa begitu terik. Debu beramburan disapu kendaraan melintas. Penjalan kaki semakin tersingkir, kepanasan dan menghirup berbagai polusi. Aroma kota pelabuhan semakin kental dengan kehadiran truk kontainer yang menjejal di jalanan yang padat. “Serasa di Tanjung Priok ya,” gumamku dalam hati.

Tapi ini bukan Priok, bukan pula di Indonesia. Ini adalah Cebu, sebuah kota di Filipina. Negara tetangga yang secara topografi memang tidak jauh berbeda dengan tanah air. Tantangan alam tersebut harus dilalui untuk mengunjungi destinasi wajib di Cebu. Tiap orang yang saya tanya, ada apa di Cebu, jawabannya sama,”Basilica del Santo Niño!”

Kami, tentu masih bersama Sari, tidak memilih jalan mudah untuk pergi ke sana. Kami berangkat dari Mactan, pulau kecil di selatan Cebu, dengan menggunakan Jeepney, angkutan umum khas Filipina.  (Baca: Beginilah Pengalaman Naik Jeepney, Angkot dari Filipina)

Tidak ada Jeepney yang langsung ke Basilica. Dari sekian banyak Jeepney yang lewat di depan hotel, kami harus memilih Jeepney yang tujuan akhirnya di Park Mall, Cebu. Ini seperti terminal yang terintegrasi dengan sebuah pusat perbelanjaan. Perjalanan dilanjutkan dengan Jeepney yang mengarah ke Basilica. Saya katakan mengarah karena tidak melewati Basilica. Kami harus jalan kita-kira 500 meter.

Perjalanan dengan Jeepney inilah yang membuat kami merasakan betapa panasnya Cebu. Terlebih, Jeepney tidak mempunyai jendela, sehingga aroma pelabuhan sungguh melekat. Baik itu melalui hidung maupun kulit yang merasakan pekatnya kadar garam yang menempel.

Turun dari Jeepney, kaki langsung melangkah dengan cepat dan kepala agak menunduk untuk menghindari panas. Namun sesaat langkah terhenti tatkala melihat seorang bapak di depan saya berhenti, menghadap ke arah dalam dan membuat tanda salib. Saat itulah saya menyadari bahwa saya berada di depan Gereja Cebu Metropolitan Cathedral atau juga disebut The Metropolitan Cathedral of the Holy Angels and of St. Vitales. Tidak heran, negara ini dikenal dengan penganut Katolik yang taat. Tidak sampai 5 menit kemudian kami sampai di pelataran Basilica del Santo Niño.

Hari itu, Jumat 7 April 2017, Basilica tampak ramai sekali. Tidak lama kemudian, kami baru menyadari akan ada Perayaan Ekaristi. Dirundung rasa tidak tahu dan penasaran, kami ikut saja gerakan sebagian besar orang. Belakangan kami tahu, ini adalah Ekaristi Jumat Pertama. Misa tampak seperti biasa. Yang menjadi pemandangan tidak biasa, selepas misa, ratusan orang ngantre untuk mendapatkan percikan air dari petugas. Air yang didapat, dipakai untuk membasuh muka sembari berharap mendapat berkat dari Yang Mahakuasa.

Pelataran Basilica Santo Nino yang dipenuhi umat yang ingin "ngalap berkat" dari air suci seusai misa jumat pertama.
Pelataran Basilica Santo Nino yang dipenuhi umat yang ingin “ngalap berkat” dari air suci seusai misa jumat pertama.

IMG_1125

Basilica del Santo Nino

Di tempat saya berdiri saat Ekaristi, adalah pelataran. Di sinilah tempat menyelenggarakan Ekaristi pada perayaan besar sehingga bisa menampung banyak umat. Sisi altar adalah sebuah gedung bertuliskan Santo Niño: Source of Communion, Protector of Creation. Gedung yang terkesan baru itu terdapat 2 pantung Santo Niño atau sering kita dengar sebagai patung Kanak-kanan Yesus.

IMG_1077 IMG_1102

Nama Santo Niño yang terkesan Spanyol itu baru “nyambung” dengan gedung di belakang saya. Inilah Basilica del Santo Niño, sebuah gedung gereja megah bergaya Spayol. Di dalam gereja inilah, tersimpan Patung Santo Niño yang dibawa oleh Ferdinand Magellan, orang Spanyol yang mengawali sejarah kekatolikan di Filipina.

Jejak misonaris di Cebu diawali dengan kisah petualangan pelaut Spanyol bernama Ferdinand Magellan. Dalam sebuah ekspedisi, yang dikenal dengan Ekspedisi Loaisa, ia ingin menjelajah Samudra Pasifik guna menemukan pulau bernama Spice Island. Sejarah mencatat, pada 7 April 1521 Magellan tidak mendarat di Spice Island, tetapi di Cebu.

IMG_1369

Walau tidak mendapatkan pulau yang mereka tuju, dikatakan bahwa Magellan tidak merasa kecewa. Lantaran, sambutan penduduk terhadap Magellan dan rombongan sangat ramah. Pemukiman pelabuhan yang terdiri dari sejumlah desa nelayan itu dipimpin oleh seorang chieftain, Rajah Humabon dan istrinya bernama Ratu Juana.

Hubungan antara Magellan dan Raja sangat baik. Tidak hanya dalam bidang perdagangan, tetapi juga dalam penyebaran agama. Raja dan Ratu menerima baik agama Katolik yang diperkenalkan Magellan. Salah satu tandanya adalah Magellan menancapkan sebuah salib kayu yang besar di tanah Cebu, tidak lama dari kedatangannya, 14 April 1521. Salib tersebut masih ada sampai sekarang dan tersimpan di sebuah bangunan kecil, di sebelah gedung Basilica. Salib ini dikenal denga sebutan Magellan’s Cross. Dalam konteks yang berbeda, Magellan’s Cross bisa diartikan sebagai awal dari mulainya kolonialisasi Spanyol atas Filipina.

IMG_1375
Magellan’s Cross saat didirikan pertama kali
IMG_1229
Magellan’s Cross kini yang letaknya di sebelah Basilica Santo Nino

IMG_1222

Kemudian, puncak dari katolisitas di Cebu adalah pembabtisan serentak 800 orang termasuk raja dan ratu. Bahkan, Magellan memberikan hadiah kepada Ratu sebuah patung Kanak-kanak Yesus, yang sampai saat ini dikenal dengan sebutan Santo Nino.

Berpegang dari keberhasilan di Cebu, Magellan langsung menuju Pulau Mactan. Tidak seperti di Cebu, Magellan dan pasukannya mendapat perlawanan dari Lapulapu, penguasa Mactan. Tidak disangka, pasukan Spanyol tidak hanya kalah, Magellan pun tewas pada pertempuran yang terjadi pada 27 April 1521.

Pertempuran antara pasukan Spanyol pimpinan Magellan dengan Lapulapu di Mactan
Pertempuran antara pasukan Spanyol pimpinan Magellan dengan Lapulapu di Mactan
IMG_1315
Mactan Shrine yang ada di Lapulapu, Mactan ini menjadi tempat yang disucikan karena menjadi tonggak sejarah yang penting bagi masyarakat Filipina. Di bawah tampak Tugu Magellan, yang menandai di sinilah Magellan tewas dalam upaya merebut Mactan. Di atas adalah Patung Lapu-lapu, seorang pemimpin Mactan yang berhasil mengamankan wilayahkan dari ekspansi Spanyol yang dipimpin oleh Magellan.

IMG_1293

Peristiwa ini memiliki dua arti. Pertama, hanya dalam waktu 20 hari kehidupan Magellan di Filipina, katolisitas menancap sampai sekarang. Nilainya tentu bertransformasi, dari Katolik sebagai agama penjajah, kini telah menjadi agama yang diimani penuh oleh sebagai besar penduduk Filipina. Arti kedua, terbunuhnya Magellan menjadikan Lapulapu sebagai pahlawan pertama Filipina, karena dialah pribumi pertama yang menentang kolonialisasi Spanyol. Setidaknya, lebih dari 40 tahun penduduk Filipina merdeka sebelum pada akhirnya pada 27 April 1565 datang Miguel Lopez de Legazpi, penerus Magellan, datang ke Cebu.

IMG_1385

Kehadiran Miguel tidak seperti Magellan yang disambut hangat. Rajah Tupas, penerus Rajah Humabon, memilih bermusuhan dengan kehadiran orang Spanyol. Alhasil, terjadilah pertempuran antara keduanya yang dimenangkan oleh Miguel dan pasukannya.

Pasca pertempuran, di daerah Sawang di Cebu, dua prajurit Spanyol yakni Juan De Camus dan Pedro De Alorca menemukan pantung Santo Niño di reruntuhan. Patung ini diyakini sebagai patung milik istri Rajah Humahon yang diberikan oleh Magellan. Dari buku Sejarah Biara Augustinian Santo Niño de Cebu, di tempat diketemukannya patung Santo Niño didirikanlah gereja pertama di Cebu.

IMG_1380

Gereja yang mulanya dibangun dari bambu dan kayu bakau pada 1 November 1566 pastor Diego de Herrera itu merupakan paroki tertua di Filipina. Gereja mengalami pembaruan pada 1605-1626 oleh pastor Pedro Torres O.S.A dari Ordo Agustinian. Pada 29 Februari 1735 dibangunlah gereja dengan pondasi batu, sebuah terobosan pada waktu itu. Bangunan gereja terus mengalamai perubahan dan pembaruan, sampai pada akhirnya di tahun 1965 gereja telah selesai seperti saat ini dan oleh Paus Paulus VI gereja diangkat menjadi Basilika tepat pada ulang tahun ke-400 karya misionaris di Filipina. Basiliki memiliki beberapa sebutan,  The Minor Basilica of the Holy Child (Inggris), Basilica Minore del Santo Niño (Cebuano), Basilica del Santo Niño (Spanyol), Basilica Menor del Santo Niño (Filipina) atau umum kita kenal sebagai Basilika Santo Niño. Saat itu, Paus Paulus VI mengatakan “(Basilika ini) menjadi simbol kelahiran dan pertumbuhan Kristianitas di Filipina.”

IMG_1383
Patung Santo Nino yang diberikan kepada Sang Ratu oleh Magellan sedang diarak.

Sebuah Kritik

Saya pribadi merasa bahagia bisa menjadi bagian dari sejarah Kristianitas Filipina dengan berkesempatan berdoa di Basilika Santo Niño. Sebuah kesempatan yang saya sendiri tidak pernah membayangkan. Saya pun berkesempatan berziaran ke Magellan’s Cross, simbol Kristianitas lainnya di Filipina.

Namun ada sedikit yang menggangu saya saat malam mulai menjemput. Jalanan di area Basilica yang begitu ramai, sesaat menjadi senyap. Aktifitas pedagang pun “hilang” mengikuti pulangnya para wisatawan. Padahal waktu menunjukkan pukul 19.00.

Interior Basilica Santo Nino yang memperlihatkan altar
Interior Basilica Santo Nino yang memperlihatkan altar

Pamandangan kota berganti dengan banyaknya gelandangan hampir di sepanjang trotoar di sekeliling Basilica. Mereka pun beragam, mulai dari orang dewasa, lansia, sampai anak-anak. Ketika kami melintas, ada 3 orang anak yang langsung menghampiri. Mereka merengek supaya membeli lilin yang mereka bawa. Kami bergeming karena mau pulang. Namun mereka pun gigih. Dari 3 tinggal satu anak yang terus nempel dan terus ngomong dalam bahasa Cebuano dan bahasa isyarat bahwa dia butuh makan dan minta dikasihani sembari memperlihatkan kakinya yang tanpa alas.

IMG_1191
Tiap hari ada ratusan orang yang mengantri untuk berdoa di depan patung Santo Nino (Kanak-kanak Yesus). Gambar bawah tampak patung Santo Nino di dalam kaca

IMG_1179

Sebenarnya saya sudah lama mendengar adanya kesenjangan ekonomi yang cukup mencolok di Filipina. Gereja Katolik dituntut lebih banyak berperan untuk mewujudkan keadilan sosial dan kesejahteraan di Filipina. Ternyata apa yang saya dengar tersebut, ternyata masih relevan untuk saat ini. Saya berharap supaya pemimpin agama bersama para pejabat yang tentunya mayoritas Katolik mulai berpikir konkret untuk menghadirkan Yesus secara nyata dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di sana.

Saya berharap, jika Paus Paulus VI pernah mengatakan bahwa Basilica Santo Niño sebagai simbol kelahiran dan pertumbuhan Kristianitas di Filipina, semoga ke depan Basilica menjadi simbol kesejahteraan masyarakat Filipina secara keseluruhan.

Video gambaran kesenjangan antara kemegahan Basilica dengan kondisi masyarakat sekitar:

 

Facebooktwittergoogle_plusby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.

Leave a Reply