Seribu Bunga di Balai Kota: Cara Membaca Siapakah Pendukung Basuki dan Anies?

Facebooktwittergoogle_plusinstagramby feather

Pulang kerja saya kaget melihat ada bunga mawar merah di atas meja makan. Kelopaknya tampak sudah tidak segar, Namun mawar itu tetap direndam dalam air, dengan harapan besok masih bisa dipandang dan dikenang. Kenangan pada sosok Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

“Bunga itu dari Balai Kota. Mami tadi ke sana, mampir sebelum ke persekutuan doa,” kata ibu mertua saya.

Mami bersama teman-temannya menyempatkan diri berfoto-foto di antara rangkaian bunga yang dikirim para pendukung Basuki – Djarot. Ia dan teman-temannya mengaku sempat meneteskan air mata, apalagi melihat ribuan bunga yang berjajar lengkap dengan kata-kata yang menusuk hati. “He is the best governor,” seru Mami lagi saat melihat berita di TV yang memberitakan Basuki.

Pengalaman ini menggungah saya bertanya diri, ada apa dengan pemilih Basuki – Djarot? Apa yang membedakan mereka dengan para gubernur sebelumnya? Apa pula yang menjadikan mereka berbeda jika disandingkan dengan Anies – Uno yang menang dalam hitung cepat?

Mami (baju merah) sedang berfoto di depan Balai Kota. Sebagian mawar merah ia bawa pulang sebagai kenangan cintanya pada Sang Gubernur.
Mami (baju merah) sedang berfoto di depan Balai Kota. Sebagian mawar merah ia bawa pulang sebagai kenangan cintanya pada Sang Gubernur.

Jawaban saya adalah, para pendukung Basuki – Djarot memilih mereka dengan hati, dengan cinta. Atas dasar itulah, mereka mendapat dukungan dari lintas agama, lintas suku, lintas ras, bahkan lintas daerah dan negara. Cinta itu bersifat universal, sehingga ia bisa menembus ke segala relung hati manusia. Cinta inilah yang menjelaskan mengapa ada seorang nenek berjilbab menangis terisak saat Basuki dinyatakan kalah oleh hitung cepat. Atau selalu ada banyak warga dari segala golongan antri di Balai Kota untuk mengadu ke Basuki atas bermacam persoalan.

Cinta itu pula yang mulai kemarin dan hari ini menggerakkan ribuan orang untuk mengirimkan rangkaian bunga ke Balai Kota. Bagi saya, kiriman bunga ini menjadi tanda cinta warga kepada Basuki, tetapi juga sekaligus sebagai media penyaluran rasa kecewa-pedih-sakit para pendukung Basuki yang merasa dikalahkan oleh kekuatan lain. Saya pikir, sikap ini penting supaya mereka bisa “lepas” dari rasa tidak enak itu. Biarlah rasa itu tertinggal di rangkaian bunga bergabung dengan rasa serupa dari jutaan warga lainnya. Harapannya, setelah ini mereka, begitu juga saya, bisa move on dan memberi sumbangsih untuk Jakarta yang kita cintai, yang Basuki juga cintai.

Lalu pertanyaan yang muncul, mengapa pendukung Anies – Uno tampak berbeda, padahal mereka merasa menang? Kalau menurut pendapat saya, pendukung mereka memiliki karakteristik yang berbeda. Antara Anies – Uno dengan pendukungnya kurang terjalin ikatan cinta. Mereka satu sama lain terhubung oleh gelombang tunggal, yakni kesamaan ideologi, kesamaan agama, kesamaan ajaran, dan maaf saya harus katakan sebagian dari mereka mendukung karena “takut berdosa”, “takut dianggap tidak taat pada ajaran agama”, dan “takut menentang anjuran dari pemimpin agamanya.”

Foto: Kompas.Com
Foto: Kompas.Com

Faktor kesamaan ideologi-agama-ajaran yang berkelindan dengan rasa takut ini membuat para pendukung Anies – Uno solid, kuat, menjadi satu. Pada akhirnya kekuatan ini, berdasarkan hitung cepat, keluar sebagai pemenang. Setelah itu? Ya sudah. Selesai. “Tugas saya adalah memilih mereka yang sama dengan saya karena memang begitulah anjurannya, begitulah ajarannya, dan begitulah seharusnya yang terjadi menurut keyakinan saya, ideologi saya, agama saya, dst.” Begitulah kira-kira alasannya.

Hal ini dibuktikan oleh survei yang dilakukan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang mengatakan 32,4 persen responden pemilih Anies – Uno karena kesamaan agama; 11,5 persen responden karena alasan orang pintar dan berpendidikan; 11 persen memilih karena berpengalaman dalam pendidikan. Sisanya pemilih Anies – Uno karena alasan ramah, perhatian pada rakyat dan lain-lain. Survei dilakukan dari tanggal 31 Maret – 5 April 2017.

Ke depan, Anies – Uno punya pekerjaan rumah yang besar dan berat utamanya untuk memenangkan hati masyarakat Jakarta. Membangun Jakarta tidak bisa dengan kesamaan ideologi, agama, golongan, atau dengan menakut-nakuti warga dengan dalil-dalil agama seperti yang dijual selama proses Pemilukada DKI Jakarta. Membangun jakarta harus mulai dari diri pemimpin sendiri yang mau jadi pelayan. Pelayan yang baik itu adalah dia yang mewakafkan dirinya untuk semua warga yang ia pimpin tanpa melihat latar belakangnya. Pelayan yang seperti ini hanyalah pelayan yang memiliki hati, hati yang tulus, hati yang melayani sampai dirinya merasa sakit.

Terima kasih Pak Basuki dan Pak Djarot!

Terima kasih warga Jakarta atas luapan cinta kalian yang membuat perjuangan kita tetap wangi semerbak.

Dan selamat memenangkan hati warga Jakarta hai Pak Anies dan Pak Uno!

Facebooktwittergoogle_plusby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.

Leave a Reply