Beginilah Pengalaman Naik Jeepney, Angkot dari Filipina

Facebooktwittergoogle_plusinstagramby feather

Debu mendebur dengan pekat tiap kali kendaraan bermotor melintas. Semakin tinggi debu itu bertebaran saat knalpot menyembur dari truk kontainer yang begitu ramai. Di bawah terik mentari,  hiruk pikuk kota pelabuhan itu tampak jelas dari jendela Jeepney.

Jeepney tidak ubahnya sebuah angkot di Indonesia. Namun, ada banyak yang istimewa dari kendaraan umum yang menjadi ciri khas Negara Filipina pada umumnya. Saya bersama isteri cukup beruntung mendapat kesempatan ber-Jeepney-ria di tengah perhelatan ASEAN Finance Ministers’ Investors Seminar (AFMIS), 6 April 2017 di Shangri-la Mactan Resort and Spa, Lapu-Lapu City, Cebu, Filipina.

Mactan adalah nama Pulau yang masuk dalam Provinsi Cebu. Pulau Mactan dengan Pulau Cebu dipisahkan oleh Selat Mactan. Kedua pulau ini dihubungkan oleh 2 jembatan, yakni Jembatan Marcelo Fernan dan Jembatan Mactan-Cebu.

Jeepney yang melintas di Pulau Mactan, Cebu, Filipina. Tidak jauh dari Shangri-la Hotel
Jeepney yang melintas di Pulau Mactan, Cebu, Filipina. Tidak jauh dari Shangri-la Hotel

Kami tinggal di Palmbeach Resort & Spa yang jaraknya hanya 1,5 km dari Shangri-la. Untuk mondar-mandir, sebenarnya pihak panitia menyediakan mobil shuttle yang selalu siap sedia, tetapi kami kebayakan lebih memilih naik jeepney. Hanya dengan 7 peso, kira-kira Rp. 2,000 kami bisa merasakan sensasi di Negeri Lumbung Padi ini.

Dari sisi panampakan dan fungsinya, jeepney tidak begitu spesial. Lebih kurangnya sama dengan naik angkot di Jakarta. Perbedaan mulai berasa ketika kami berkendara bersamanya. Baru saja duduk, dengan posisi dekat supir, saya sudah dikasih uang receh oleh supir. “Uang apa dan untuk apa ini,” kataku dalam hati. Belakang baru saya ketahui, itu adalah uang kembalian dan saya diminta tolong (tentu tanpa kata-kata) untuk memberikan uang itu kepada penumpang yang membayar secara estafet. Bagaimana dengan membayar? Sama! Penumpang yang jauh dari supir akan memberikan uang secara estafet, dari satu penumpang ke penumpang lainnya, sampai ke supir.

WhatsApp Image 2017-04-15 at 11.36.24 AM
Selfie dulu di Jeepney. Perjalanan dari Palmbeach Hotel menuju Shangri-la Hotel untuk pembukaan AFMIS 2017

Sistem pembayaran ini sangat unik. Supir tidak perlu hire kenek/ asisten untuk menarik uang penumpang, sehingga menekan biaya. Masyarakat dilatih untuk jujur, karena supir atau penumpang tidak akan menagih Anda untuk membayar. Pelajaran lainnya, adalah gotong royong. “Hanya” urusan uang angkot saja, yang nilainya tidak seberapa, masyarakat didorong untuk saling membantu.

Suasana di dalam jeepney, sekali lagi, tidak ubahnya pengalaman naik angkot di Jakarta atau di kota-kota lain di Indonesia. Duduk menyamping, saling berhadapan dengan penumpang lain. Saat berhenti di lampu lalu lintas atau di tengah kemacetan, ada saja penjual air mineral dan kacang rebus. Tentu penjualnya tidak berteriak, “Kacang..kacang..kacangnya neng..”

Suasana menjadi berbeda tatkala supir membeli kacang dan mulai memakannya. Alih-alih kulit kacangnya dibuang di jalan, ia dengan susah payah membuang kulit kacang di kotak sampah yang berada di bangku penumpang belakang. Ya, di setiap jeepney disediakan kotak sampah. Dan itu bukan hanya pajangan saja.

Selain kotak sampah, ada juga tulisan “No Smoking.” Berdasarkan pengalaman naik angkot, apalagi bus, bukanlah pengalaman asing melihat orang merokok. Utamanya sang supir. Tetapi, di jeepney tidak ada satu orang pun yang merokok, termasuk supir. Padahal, kalau pun ada orang yang merokok saya tampaknya akan maklum karena jeepney di Cebu tidak ada jendela tertutup. Hanya jika hujan saja maka terpal akan diturunkan untuk menutup jendela. Selebihnya kita akan menghirup udara lepas, termasuk gumpalan debu yang jamak di summer time.

no smoking
Penumpang dan supir tidak boleh merokok dan wajib buang sampah di tempatnya

Ada satu lagi kelengkapan yang wajib ada di setiap jeepney. Di bagian dashboard, berdiri tegak patung Santo Niño de Cebú atau patung Kanak-kanan Yesus yang begitu terkenal di daerah ini. Sedangkan di spionnya dilingkarkan rosario. Tidak hanya satu, ada beberapa supir jeepney sampai memasang 2-3 rosario. Pemandangan ini menjadi umum di Filipina yang mayoritas penduduknya penganut Katolik yang taat.

Pengalaman naik jeepney tidak sebatas dari hotel ke tempat acara di Shangri-la, tetapi ke Cebu City, Pulau Cebu yang jaraknya lebih kurang 20 km. Selepas menunaikan tugas negara, kami mau ke Basilica Minore Del Santo Nino di Cebu City dengan menggunakan jeepney. Ketika kami pamit ke resepsionis hotel, mereka kaget kenapa memilih jeepney bukan taksi. Apalagi untuk sampai ke tempat tujuan, kami harus ganti jeepney. Alhasih kami dibekali kartu nama hotel dan ucapan “be careful sir..mam..” Pak satpam hotel pun mengantar kami sampai kami benar-benar naik ke jeepney.

Jeepney yang kami pilih adalah jurusan Terminal Park Mall. Tidak semua jeepney yang lewat di depan hotel sampai ke terminal. Dari situ, kami berganti jeepney yang mengarah ke Basilica. Jeepney tidak turun di depan Basilica, masih ada kira-kira 500 meter. Untungnya, ada satu penumpang jeepney yang juga mau ke Basilica. Kami pun diantarnya sampai ke tujuan dengan selamat.

bendera indonesia
Bendera Indonesia terpasang di sepanjang jalan bersama bendera-bendera negara ASEAN lainnya

Sebenarnya seperti  apa sih jeepney itu? Seperti namanya, jeepney adalah angkuta umum yang dibangun dari mobil jeep. “Dibangun” karena sudah mengalami banyak modifikasi dari mobil aslinya. Salah satu “warisan” yang ditinggalkan Amerika Serikat di Filipina pada era Perang Dunia II adalah ratusan Jeep. Filipina yang menderita pasca perang, memanfaatkan jeep tersebut untuk transportasi umum.

Jeep dimodifikasi khususnya di bagian belakang sehingga memuat kira-kira 20 orang dalam 2 baris. Kepalanya jeep tetapi belakangnya seperti mobil ELF yang panjang. Biasanya jeepney seperti ini ada di Manila, sedangkan di Cebu sudah jarang “kepalanya” jeep, tetapi sudah hasil modifikasi dari berbagai macam mobil.

WhatsApp Image 2017-04-15 at 11.38.41 AM
Salah satu sudut di Kota Cebu yang diambil dari jendela jeepney, mirip Indonesia ya..

Kehadiran jeepney di jalanan begitu terasa karena dicat dengan penuh warna-warni yang menarik mata. Bahkan ada banyak pemilik jepneey yang melepaskan daya kreatifitasnya dengan melukis badan mobil. Bahkan ada yang dilengkapi dengan terompet besar yang berfungsi sebagai klakson.

Konon, sudah ada E-Jeepney atau electrical jeepney yang berarti jeepney berbahan dasar listrik. Beberapa E-Jeepney telah diproduksi dan mulai digunakan sebagai mobil antar-jemput sekolah, penginapan, dan taman hiburan.

philippines_map
Peta Filipina yang menunjukkan di mana Pulau Cebu dan Pulau Mactan
Facebooktwittergoogle_plusby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.

Leave a Reply