Guratan Singkat Bambang Hartadi Selama di BBPJN VI

Facebooktwittergoogle_plusinstagramby feather

Mendung tidak berniat terburai. Membuat matahari tak mampu menembus bumi dengan sinarnya. Waktu sudah menunjuk pukul 9 pagi. Waktu untuk bekerja. Tetap semangat walau cuaca tidak mendukung.

“Harus semangat. Keberanian dan kegigihan dibutuhkan untuk menghadapi berbagai dinamika yang terjadi di lapangan,” kata Bambang Hartadi, Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) VI di tengah-tengah kegiatannya mendampingi Anggota DPR Komisi V ke Kota Depok, Senin 20 Februari 2016.

Di atas bus rombongan, Bambang yang lahir 22 Februari 1957 di Bandung menerima wawancara Media Jalan Jakarta. Di tengah guyuran hujan dan padatnya lalu lintas di Kota Depok, suami Nina Linowati Rustam itu menuturkan pengalamannya lebih kurang 4 tahun berkarya di BBPJN VI.

Bambang Hartadi selalu menjali komunikasi dengan Menteri PUPR - Copy
Bambang Hartadi selalu menjali komunikasi dengan Menteri PUPR

Menurut Bambang, menjadi seorang Kepala BBPJN VI tidak ubah seperti seorang manajer wilayah yang memastikan semua program yang digariskan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat khususnya di bidang ke-Bina Marga-an terlaksana dengan baik di lapangan. Wilayah yang dipercayakan kepadanya meliputi 3 provinsi: Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. “Mengepalai Balai itu ibarat mengepalai pasukan ujung tombak dari Ditjen Bina Marga.”

Fungsi manajer itu tidak hanya mengarah ke internal tetapi juga bersifat eksternal. Tujuannya seluruh program yang telah diamanatkan kepada dirinya dapat berjalan baik. Secara internal, dia wajib membangun komunikasi dengan seluruh pegawai di lingkungan BBPJN VI, baik itu yang ada di kantor BBPJN VI maupun yang di lapangan yakni Satker dan PPK.

“Mengelola manusia itu spesifik. Saya sebagai pimpinan menyadari latar belakang diri saya, demikian juga dengan jajaran saya. Maka, saya tidak bisa menyamaratakan sikap kepada semua pegawai,” ungkap lulusan Master of Project Management dari Queensland University of Technology itu.

Untuk membangun kedekatan sekaligus memastikan pegawainya menjalankan tugasnya dengan baik, Bambang tidak segan untuk mengingatkan berkali-kali. Apalagi kerja di bidang teknik itu cenderung statis sehingga memiliki kecenderungan untuk abai. “Maka dalam waktu-waktu tertentu harus diingatkan melalui rapat koordinasi, rapat bulanan, tri-wulanan, atau spotan.”

Lebih dari itu, Bambang melanjutkan, faktor eksternal harus mendapat perhatian supaya seluruh program pembangunan dapat diimplementasikan dengan baik. Kita tidak bisa membangun begitu saja tanpa membangun komunikasi, entah itu kepada masyarakat sekitar, pihak terkait seperti kepolisian, TNI, kejaksaan, bahkan kepada para wartawan dan lembaga swadaya masyarakat.

Pembangunan hanya bisa terlaksana dengan baik jika ada komunikasi lintas instansi. Tampak Bambang Hartadi berdialog dengan Kepala Biro Komunikasi Publik End - Copy
Pembangunan hanya bisa terlaksana dengan baik jika ada komunikasi lintas instansi. Tampak Bambang Hartadi berdialog dengan Kepala Biro Komunikasi Publik Endra S.Atma (kanan) dan Dirut PT> Lintas Marga Sedaya Hudaya Arryanto (tengah).

Semuanya harus dirangkul dan diajak berkomunikasi karena jika tidak maka bisa terjadi kesalahpahaman, sehingga berpotensi menghambat pembangunan. “Pada dasarnya mereka adalah manusia yang harus dimanusiakan. Maka, saya harus menyempatkan waktu menemui mereka untuk ngobrol. Kalau tidak, mereka bisa bilang saya sombong, antipati. Bisa saja tanpa saya sadari, mereka sakit hati dan mencari-cari kesalahan,” Bambang menjelaskan.

Intinya, ia menegaskan, menjadi pemimpin balai itu mau tidak mau harus menghadapi tingginya dinamika di lapangan. Komitmen menjadi hal yang harus dipegang teguh. Ia pun mencontohkan bagaimana dinamika itu membawanya pada pengalaman disidang menjadi saksi untuk kasus korupsi pembangunan  jalan baru Sentul atau Puncak II Bogor dan saksi kasus korupsi proyek perbaikan Flyover Cibodas Tangerang. 

Menanggapi pengalaman tersebut, Bambang mengaku mengedepankan positif thinking dan berusaha enjoy, agar tidak frustrasi. “Bagaimana pun saya harus hadapi dengan tenang. Kalau terlalu dipikir bisa gila nanti.”

Itulah mengapa Bambang sangat merasakan betapa besarnya dukungan keluarga dalam menjalankan tugasnya sehari-hari. “Keluarga selalu mendukung saya. Saya selalu komunikasikan dengan isteri, misalnya saya sedang mengerjakan apa supaya isteri juga tahu dan ikut mengingatkan. Namun tetap ada yang dirahasiakan, misalnya terkait mutasi jabatan.”

Keluarga juga menjadi labuhan terindah ketika Bambang memasuki masa pensiun pada 1 Maret 2017. “Kembali ke keluarga, meluangkan waktu untuk keluarga dan istirahat sejenak. Keluarga selama ini sangat mendukung saya dalam bekerja,” ungkap ayah dari tiga orang anak itu.

Ketika ditanya apa kegiatan pensiun ia mengaku belum ada. “Cita-cita masa pensiun saya sebenarnya bertani, dulu punya tanah di Ciwideuw sana. Sayangnya, tanah itu sudah dijual. Mungkin saya akan beternak atau punya kesibukan lain agar tidak boring.”

 

*) Salah satu tulisan di Buletin Media Jalan Jakarta Vol. 7/ 2017.  Buletin milik  BBPJN VI dibuat oleh saya dalam tim PT. Media Artha Pratama

1 - Copy

 

Facebooktwittergoogle_plusby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.

Leave a Reply