Ini Ajakan Pemimpin Umat Katolik untuk Amalkan Sila Kedua Pancasila

Facebooktwittergoogle_plusinstagramby feather

Dewasa ini kita kerap disajikan beragam drama paradoksal. Lihatlah, bagaimana ada tokoh agama yang lantang membela keyakinannya, tersandung masalah asusila. Pemimpin yang diberi amanah mendistribusikan pembangunan secara adil, terjungkal oleh korupsi. Atau seorang guru yang mengajarkan beragam nilai dan normal, terperosok dalam kelam sexual abuse.

Kisah yang tersaji nyata itu tidak hanya beredar di berbagai berita, tetapi juga beredar luas di media sosial, sampai ada di antara kita bener-bener merasakannya langsung. Miris memang. Tapi, jika ada yang menganggap ini “biasa” di tengah dunia yang memang sudah menggila, ini baru masalah. Artinya, kita sudah masuk pada era cuek, tidak lagi punya hati yang tajam memilah mana yang benar mana yang tidak.

Untungnya, fenomena ini sudah terekam oleh Yesus ribuan tahun lalu. Dalam Injil yang dibacakan hari ini di seluruh dunia, Yesus menyerukan bahwa tidak seorangpun dapat mengabdi kepada 2 tuan sekaligus. “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Matius 6:24).

Uskup Agung Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) Mgr Ignatius Suharyo dalam Surat Gembala Prapaskah 2017 menafsirkan Injil tersebut. Menurutnya, kata “mengabdi” berarti kita menjadi milik tuannya, mutlak tergantung pada tuannya. Hubungan abdi dan tuan dipakai Yesus menggambarkan hubungan antara kita dengan Tuhan. “Sebagai abdi, kita tidak boleh bilang pada Tuhan apa yang boleh saya lakukan, tapi bertanyalah pada diri kita apa yang dikehendaki Tuhan supaya saya lakukan. Usaha menjadi abdi Tuhan adalah jalan untuk sampai kepada kepenuhan hidup Kristiani menuju kesempurnaan cinta kasih sekaligus menjalankan perutusan kita sebagai murid Yesus,” kata Suharyo.

Kemudian ia mengartikan kata “Mamon”. Kata itu, harusnya ditulis dalam huruf kecil, tapi di Injil ditulis dengan huruf besar. Kata “mamon” artinya “harta milik” yang dalam kehidupan saat ini harta milik adalah sesuatu yang kita punya dan bisa kita titipkan kepada seseorang atau suatu lembaga supaya aman. Tapi dalam perjalanan waktu, arti “mamon” berubah “Mamon” yang artinya menjadi tempat orang menaruh kepercayaannya.

Mamon dengan huruf besar berarti harta milik menjadi tempat orang menaruh kepercayaannya. Dengan kata lain, manusia yang seharusnya mengabdi Tuhan malah tunduk dan menjadi budak dari harta miliknya. Dengan demikian, jati diri manusia sebagai abdi Tuhan berubah menjadi budak harta milik. “(Di sinilah), kemanusiaan direndahkan, dengan demikian keadilan dan peradaban tidak akan tumbuh,” tutur Suharyo.

Sampai sini Suharyo ingin menegaskan bahwa kita tidak bisa mengabdi kepada 2 tuan sekaligus, kepada Tuhan dan kepada harta milik. Tidak bisa seseorang lantang menyebut Tuhan Mahabesar, Mahaesa, Mahakuasa, Maha-Maha lainnya, tetapi di sisi lain mengambil uang rakyat. Tidak bisa orang berkotbah tentang beragam nilai dan moral tetapi dia tidak sungkan menampar istri atau serong. Atau tidak bisa seorang pemimpin rajin beramal tetapi hak-hak pegawainya tidak terpenuhi.

Sabda Yesus ini, Suharyo melanjutkan, dapat membantu kita memahami semboyan “Amalkan Pancasila, Makin Adil Makin Beradab” yang diserukan kepada seluruh Umat Katolik di Keuskupan DKI Jakarta. Semboyan ini selaras dengan Arah Dasar KAJ supaya seluruh umat Katolik dapat mengamalkan Pancasila, sebagai ungkapan kesadaran dan cita-cita moral bangsa.

Konkretnya, pada tahun 2016 KAJ mengajak umat Katolik untuk memusatkan panggilan dan perutusan kita pada sila pertama Pancasila yakni dengan semboyan “Kerahiman Allah Memerdekakan.” Pada tahun 2017 ini giliran pusatnya ada di sila kedua, yakni “Amalkan Pancasila, Makin Adil Makin Beradab.”

Semboyan ini diambil, karena panggilan dan perutusan kita sebagai orang Katolik tidak lepas dari konteks hidup kita. “(Lihatlah bagaimana cita-cita Pancasila) mulai luntur, seperti oleh fundametalisme agama dan intoleransi semakin nyata, lalu maraknya kekerasan dan perdagangan manusia. Persatuan kita dilemahkan oleh isu SARA. Mufakat untuk kepentingan bersama terkadang dipinggirkan oleh kepetingan segelintir kelompok atau golongan. Segala usaha untuk mewujdukan keadilan sosial dihambat oleh keserakahan yang didukung oleh kekuatan-kekuatan tersembuyi,” sebut Suharyo.

Ajaran Yesus tentang harta milik, erat kaitannya dengan kemanusiaan, keadailan dan keadaban, sebagaimana melekat pada sila kedua Pancasila. Harta milik atau lebih tepatnya sikap kita kepada harta milik, bisa memuliakan martabat, menegakkan keadilan dan memajukan keadaban, jika memenuhi 3 prinsip berikut:

  1. Segala sesuatu adalah milik Tuhan. Dengan demikian, seharusnya tidak ada orang mengatakan bahwa apa yang melekat padanya adalah miliknya. Harusnya ia mengatakan, semua yang ada padaku adalah milik Tuhan yang dianugerahkan kepadaku, dan mesti digunakan sesuai dengan kehendak-Nya.
  2. Manusia menempatkan diri di atas harta milik. Jika seseorang menempatkan harta di atas segala-galanya, maka orang lain akan ia anggap sebagai mesin, alat produksi, bahkan sebagai barang. Kalau demikian, kemanusiaan akan direndahkan, kemanusiaan tidak diperhatian, dan peradaban akan rusak.
  3. Harta milik bukan tujuan hidup. Harta milik adalah sarana untuk memuliakan kemanusiaan, memajukan keadilan sosial, dan menumbuhkan keadaban. Inilah prinsip yag terus menerus diulang dalam ajaran sosial Gereja.

Suharyo meyadari bahwa dalam usahanya mengajak seluruh umat Katolik untuk mengamalkan Pancasila sudah sangat banyak. Namun semuanya itu tidak ada gunanya jika ajakan itu hanya dipelajari, direnungkan, didoakan, dinyayikan tetapi tidak dilaksanakan. “Mari bertanya diri, Apakah yang dapat saya lakukan agar lingkungan sekitar, keluarga, Gereja, masyarakat, serta media sosial (punya saya) semakin adil dan semakin beradab?”

Foto: currypopeck dan KAJ

 

Facebooktwittergoogle_plusby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.

Leave a Reply