Adven Pertama: Menunggu Tuhan itu Sangat Menjengkelkan!

Facebooktwittergoogle_plusinstagramby feather

Bagi umat nasrani khususnya Katolik, tanggal 27 November 2016 menjadi hari istimewa. Pada hari ini, Gereja Katolik memasuki Masa Adven yang ditandai dengan menyalakan lilin pertama dari 4 lilin pada Lingkaran Adven.

Kata ‘adven’ berasal dari kata Latin ‘adventus,’ yang berarti kedatangan. Maka ‘masa adven’ berarti masa untuk menunggu kedatangan Tuhan Yesus yang akan lahir di Hari Raya Natal. Masa adven berlangsung selama 4 minggu, yakni dari Minggu Adven I sampai dengan Minggu Adven IV.

Bagi sebagian orang, menunggu menjadi sesuatu yang sangat dibenci atau menjengkelkan. Apalagi yang ditunggu tidak kunjung datang atau bahkan tidak ada kejelasan apakah akan datang atau tidak. Menurut saya, menunggu kedatangan Tuhan sebenarnya juga sama menjengkelkannya. Bahkan jauh lebih menjengkelkan karena kedatanganNya sama sekali tidak bisa diramalkan. “Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri,” (Mat 24:36).

Bulan kedatangan yang ditandai dengan Minggu Adven I sampai IV bagi saya hanya tools yang disediakan Gereja untuk membantu kita dalam menghayati, meresapi, dan merenungkan saat-saat penantian, sehingga secara rohani kita siap menyambut kedatanganNya di Hari Natal. Namun pada kenyataannya tools ini tetaplah “hanya” tools karena pada kenyataannya Tuhan datang bisa kapan saja, dalam wujud apapun, dan di mana saja. Ia yang Mahakuasa tidak terikat oleh ruang dan waktu. “Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pencuri datang waktu malam, pastilah ia berjaga-jaga, dan tidak membiarkan rumahnya dibongkar. Sebab itu, hendaklah kamu selalu siap siaga, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga,” (Mat 24:37-44).

Tuhan Yesus sendiri berkata, bahwa Ia bisa ditemukan dalam diri orang yang tidak dikenal dan butuh bantuan, bisa juga hadir di saudara kita yang paling hina, atau hadir dalam kepolosan anak-anak kecil, atau bahkan bisa mewujud dalam sosok orang kaya yang penuh kemurahan hati (Bdk. Mat 25:40; Mat 10:14;  Markus 2:13-17; Luk 18:35-43).

Melalui SabdaNya, Tuhan ingin mengingatkan kita bagaimana kita seharusnya “mengisi waktu” saat menunggu kedatanganNya. Contoh konkret mereka yang mempraktikkan Sabda Tuhan adalah para pedagang pernak pernik natal, entah itu di mal, supermarket, sampai ke pasar-pasar tradisional. Mereka dengan penuh antusias memasuki masa adven jauh sebelum Umat Katolik merayakannya, yakni masa menanti kedatangan pembeli 2-3 bulan sebelum Natal. Di kios, mereka menanti kedatangan para pembeli dengan penuh senyum, penuh harapan, suka cita, dan tidak sedikit dari mereka memanjatkan doa syukur atau permohonan supaya dagangan mereka laku. Para pemilik mal atau toko bahkan menghias tempatnya dengan sangat indah supaya kita yang datang merasa senang dan betah.

Jika para pedagang saja mampu mengejawantahkan Sabda Tuhan dengan caranya yang khas, masak kita ‘kalah’ padahal Gereja telah memberi tools berupa Masa Adven supaya kita lebih siap menyembut kedatanganNya. Lalu apa yang perlu kita lakukan? “Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan, dan mengenakan perlengkapan senjata terang! Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan; jangan dalam percabulan dan hawa nafsu; jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang” (Roma 13:11-14a).

Di tempat lain Ia bersabda, “Sebab dari Sion akan keluar pengajaran, dan dari Yerusalem akan keluar sabda Tuhan’. Tuhan akan menjadi hakim antara bangsa-bangsa dan akan menjadi wasit bagi banyak suku bangsa. Maka mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas. Bangsa yang satu tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa yang lain, dan mereka tidak akan lagi berlatih perang. Hai kaum keturunan Yakub, mari kita berjalan di dalam terang Tuhan!”  (Yesaya 2:1-5).

Perintah Tuhan di atas bagi kita untuk mengisi waktu menunggu, bukan sesuatu yang jauh untuk kita lakukan. Di tengah Masa Adven ini, kita di Indonesia pada umumnya dan di Jakarta pada khususnya tengah menanti seorang pemimpin daerah yang ideal dalam tataran subyektif. Ada banyak adu pikiran, sikap, silat lidah, bahkan unjuk kekuatan dan strategi sebagai upaya mengisi waktu menunggu lahirnya pemimpin ideal mereka. Masing-masing kelompok meyakini bahwa calon pemimpin yang diusungnya adalah “satrio piningit” atau “juru selamat” atau “mesias” yang telah dinantikan. Dialah yang dianggap sebagai orang yang mampu mengangkat nasib masyarakat dari lembah penderitaan ke masa kejayaan.

Saking fanatiknya terhadap calon pemimpinnya, mereka tidak segan saling menyebar fitnah pada calon pemimpin lain. Mencari celah calon lain untuk bisa dijungkalkan dari peta persaingan, entah dengan menggunakan isu suku, agama, ras, dan golongan. Bahkan, prinsip etika dilanggar karena masing-masing berlomba menerapkan, “tujuan menghalalkan cara,” layaknya Robin Hood yang menghalalkan pencurian dan perampokan demi “tujuan mulia” membantu orang miskin. Dengan lihai mereka membungkus tujuan menjatuhkan saingan dalam mencari pemimpin dengan cara “mengusung dan membela nama Tuhan dan agama.” Padahal Tuhan yang katanya dibela jauh lebih sempurna dari yang membela, jauh lebih besar dari yang mengusung, karena Tuhan Mahasempurna, Mahabesar, Mahakuasa. Dan agama yang dibela pun jauh lebih universal.

Di tengah situasi seperti ini, umat Katolik diajak untuk tidak larut dalam sikap fanatik sempit. Tidak juga hanya berpangku tangan, menunggu bongkoan. Kita diminta menjadi agen pembeda tapi bukan waton bedo atau asal beda tapi berani mengambil sikap berbeda karena ada nilai yang ingin diperjuangan. Berani menjadi lentara di tengah kegelapan, dengan menciptakan kedamaian dan jauh dari perselisihan, baik itu melalui tutur kata secara langsung maupun melalui media sosial. Bersikap sopan dan tetap kalem walau pemimpin idaman kita terus diserang dan dipojokkan. Tidak pula membalas cacian dengan cacian. Mengedepankan sikap hormat jika ada kelompok yang mengandalkan kekuatan massa. “Keep calm, stay cool, and love!”

Dengan ini semoga kita dapat mengisi adventus dengan penuh nilai dan bermakna kekinian. Harapannya tentu, di hari Natal saat Tuhan yang kita nantikan hadir, kita bisa menghadapNya dengan hati damai, penuh harapan, cinta dan sukacita.

Facebooktwittergoogle_plusby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.

Leave a Reply