Adven Kedua: Gereja Beri Perhatian pada Kelompok Minoritas Terbesar di Dunia

Facebooktwittergoogle_plusinstagramby feather

Indonesia tengah diuji dengan isu mayoritas dan minoritas. Sang mayoritas merasa berhak “membungkam” sang minoritas yang ingin tampil dengan berbagai cara terselubung. Sang minoritas pun merasa punya hak yang sama di Negara Pancasila ini. Di belahan negara lain, di mana sang minoritas menjadi mayoritas, pun juga bersikap sama yakni membuat si minoritas tetap di bawah. Mereka tidak sadar, sebenarnya siapakah si minoritas tersebut?

Gereja Katolik di Minggu Adven II, 4 Desember 2016, mengeluarkan Surat Gembala yang membuat saya tersentak. Surat Gembala adalah surat yang dibuat oleh pemimpin tertinggi Gereja di suatu wilayah dan dibacakan di seluruh Gereja pada saat Ekaristi sebagai pengganti kotbah/ homili. Tersentak karena pikiran saya cukup terkuras dengan isu pilkadal Jakarta yang sudah sangat vulgar membenturkan kaum mayoritas dan minoritas. Bahkan, di tengah isu tersebut muncul insiden teror di Samarinda Kalimantan Timur yang juga mempertontonkan perbedaan mayoritas dan minoritas. Ternyata, Gereja menyodorkan fakta yang ingin mengatakan pada saya, “Iniloh…kaum minortas itu sebenarnya!”

“Penyandang disabilitas adalah ‘minoritas terbesar’ di dunia,” tulis Ignatius Suharyo, Uskup Agung Jakarta dalam surat gembala yang ditulisnya. Klaim tersebut berdasarkan data PBB yang menyebut ada sekitar satu milyar penduduk dunia, atau sekitar 15 persen yang menyandang disabilitas. Sekitar 80 persen dari jumlah itu ada di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Di Indonesia, menurut data dari Kementerian Sosial, pada 2010, jumlah penyandang disabilitas adalah 11.580.117 orang. Di antaranya 3.474.035 (penyandang disabilitas penglihatan atau tunanetra), 3.010.830 (penyandang disabilitas fisik atau tuna daksa), 2.547.626 (penyandang disabilitas pendengaran atau tuna rungu), 1.389.614 (penyandang disabilitas mental atau tuna grahita) dan 1.158.012 (penyandang disabilitas kronis lainnya, termasuk autisme).

Belum ada data berapa jumlah penyandang disabilitas di Keuskupan Agung Jakarta (DKI Jakarta, Tangerang, Bekasi, dan 2 Keuskupan Sufragan yakni Keuskupan Bogor dan Keuskupan Bandung). Tetapi jika kita ambil angka lima persen saja dari total seluruh Indonesia, maka ada kira-kira 25 ribu penyandang disabilitas di Keuskupan Agung Jakarta ini. “Perlu kita ketahui bahwa mayoritas para penyandang disabilitas ini menanggung banyak tekanan sosial karena kurang dipahami, bahkan dikucilkan. Tidak sedikit juga saudari-saudara kita ini yang mengalami diskriminasi di tempat kerja sehingga tekanan sosial yang mereka tanggung menjadi lebih berat lagi,” tutur Suharyo.

Minggu II Adven kali ini sungguh istimewa karena bertepatan dengan peringatan Hari Penyandang Cacat Internasional yang jatuh tiap tanggal 3 Desember. Menurut saya, Gereja melalui Surat Gembala ini ingin mengingatkan kita untuk tidak sibuk terhadap isu mayoritas dan minoritas yang semakin meruncing pada masa pilkada. Gereja ingin mengajak kita semua, baik mayoritas maupun minoritas untuk bersama-sama memperhatikan mereka yang menyandang disabilitas. Karena merekalah senyatanya yang minoritas dan sampai detik ini belum mendapat perhatian optimal, baik dari Negara maupun dari lembaga keagamaan.

Coba kita bertanya diri, apakah dalam hidup keagamaan baik yang mayoritas maupun minoritas, kita sudah memberi aksesibilitas kepada mereka yang menyandang disabilitas? Apakah pengurus Masjid, Gereja, Vihara, Pura, maupun aliran kepercayaan sudah memberikan pelayanan khusus pada mereka? Misalnya memberi tempat khusus di tempat ibadah supaya mereka bisa beribadah bersama-sama dengan kita yang ‘normal.’ Kalau di Gereja saya pernah mendapati ada petugas yang sigap menyambut mereka yang disabilitas dan mengantar mereka sampai ke tempat duduk khusus, yakni tempat kosong antarbangku panjang sehingga pengguna kursi roda bisa mendapat aksesnya.

Selain itu, apakah pengurus Masjid, Gereja, Vihara, Pura, maupun aliran kepercayaan sudah memberi aksesibilitas bagi penyandang disabilitas mulai dari pelataran sampai gedung tempat ibadah. Misalnya apakah di halaman ada akses jalan yang memudahkan mereka yang menggunakan kursi roda, apakah ada ramp dan guiding block untuk akses tuna netra, begitu sampai di gedung apakah akses hanya melalui tangga sehingga menyulitkan bagi pengguna kursi roda.

Kita merasa dibutakan oleh realitas banyaknya penyandang disabilitas di lingkungan keagamaan. Mereka tampak sedikit, karena mereka tidak mendapat akses untuk beribadah di rumah ibadahnya. Mereka hanya berdiam diri di rumah. Mereka semakin tersingkir, karena masyarakat sekitar atau bahkan pemerintah abai dalam memperhatikan mereka dalam memberi aksesibilitas di ruang-ruang publik.

Mari bagi mereka yang nasrani bersama-sama meneladani Yesus teladan kita. Ia tidak membeda-bedakan apalagi meminggirkan mereka. Ia menyapa orang buta, orang tuli, orang lumpuh, bahkan juga orang kusta (Mat 8:3). Ia mau makan bersama dengan pemungut cukai dan orang berdosa yang dijauhi orang (Mat 9:10). Ia pun membiarkan anak-anak datang pada-Nya, meskipun para murid memarahi orang-orang yang membawa mereka (Mat 19:13-14). Ia juga menyatakan, “segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25:40). Yesus jelas mengajarkan bahwa setiap pribadi manusia berharga di mata Allah Bapa. Setiap pribadi manusia mempunyai martabat luhur, dengan keterbatasan masing-masing.

Di akhir Surat Gembala, Suharyo yang mewakili Gereja minta maaf kalau selama ini masih belum sungguh mengerti dan memahami perasaan dan kebutuhan kaum disabilitas. “Sekarang saatnya kita berjalan bersama sebagai keluarga. Tidak lupa, kita ucapkan banyak terimakasih kepada mereka yang selama ini memberi teladan kepedulian itu, baik lembaga sosial, komunitas, maupun pribadi. Secara khusus kita ucapkan terima kasih kepada orang-tua dan keluarga yang setia mendampingi anak-anak dan anggota keluarganya yang menyandang disabilitas. Kita berterimakasih karena teladan kesetiaan, kesabaran, dan cinta-kasih yang telah mereka tunjukkan adalah jawaban terhadap panggilan Allah Bapa untuk menjadi makin berbelas-kasih seperti Bapa yang berbelas-kasih,” tutur Suharyo.

Marilah kita bersama berhenti saling mencaci hanya karena agama kita terkotak dalam mayoritas dan minoritas. Mari kita melihat diri kita sendiri, ternyata di agama kita masing-masing ada kaum minoritas yang perlu perhatian, sapaan, bantuan, dan pengakuan. Mereka ada dan memiliki martabat yang sama dengan kita. Mereka juga ciptaan Tuhan yang istimewa.

Facebooktwittergoogle_plusby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.

Leave a Reply