Perbedaan Pelecehan Seksual di Kota dan Desa

Facebooktwittergoogle_plusinstagramby feather

Belakangan ini kita kerap disajikan berita pelecehan seksual. Umumnya, pelaku pelecehan adalah laki-laki dan korbannya adalah perempuan. Tidak sedikit di antaranya, korban tidak hanya dilecehkan tetapi dibunuh secara tragis.

Ada beragam ulasan yang diketengahkan atas kasus yang mendadak membati buta di media. Saya katakan demikian, karena senyatanya kasus ini bukan sesuatu yang “istimewa,” karena sudah lama terjadi. Kasusnya merata dan masif di banyak tempat. Kalau tidak percaya, hayo buka semua laporan di kepolisian mulai dari tingkap pos polisi sampai ke polda. Mari dicocokan datanya dengan yang dimiliki organisasi atau lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di perlindungan perempuan dan anak.

Berkat kekuatan media massa, kasus pelecehan perempuan di negara yang masih sangat kental budaya patriaki dan feodal ini mengemuka dan mewujud pada sosok menjijikkan. Serta mertalah kita membuang sumpah serapah pada sosok tersebut. Tak pelak, Presiden turut turun tangan dengan bersiap mengeluarkan perppu yang katanya akan mengebiri pelaku pelecehan.

Mumpung saat ini kasus ini agak sedikit mereda, saya coba tawarkan pendapat terkait fenomena ini. Menurut saya, kasus pelecehan yang banyak terjadi di luar Jakarta (baca: terjadi di daerah) sebagaimana ramai diberitakan, senyatanya memiliki alur yang sama dengan kasus prostitusi kalangan menengah ke bawah yang diwakili oleh kehebohan penertiban Kalijodo, dengan kasus prostitusi artis yang diwakili tertangkapnya RA (Robby Abbas), dan tentunya kelahiran generasi kekinian para cabe-cabean!

Bagi saya semua fenomena tersebut adalah bentuk pelecehan bagi kaum perempuan. Bedanya, dari satu sisi perempuan merasa diri menjadi korban sedangkan di sisi lain tidak. Satu sisi merasa dilecehkan tetapi di sisi lain merasa tidak dilecehkan. Di sinilah titik perbedaannya.

Pada kasus pelecehan seksual di mana korban diperkosa dan tidak sedikit yang dibunuh secara keji, para perempuan ini “didatangi,” kemudian “diajak” pergi, dan akhirnya “digituin,” “diancam” lalu “dibunuh.” Rangkaian katanya “pasif” karena pada posisi ini para korban memang pasif dan cenderung menolak. Perilaku pasif ini bisa menunjukkan banyak indikasi, satu di antaranya adalah kurangnya informasi tentang melindungi diri sendiri atau waspada dari ancaman laki-laki.

Golongan ini banyak diberitakan terjadi di daerah. Saya tidak punya analisis ilmiah, tetapi menurut penalaran saya para perempuan ini adalah korban dari dampak pembangunan. Kita tahu bersama, pemerintah sekarang tengah gencar melakukan pembangunan yang bisa dirangkum menjadi, “Pembangunan merata dan menyeluruh tidak hanya terpusat di kota atau di Pulau Jawa.”

Pemerintah terus menggenjot pembangunan infrastruktur sampai ke daerah, pelosok, terpencil dan perbatasan. Tidak hanya membangun infrastuktur fisik (jalan, jembatan, pelabuhan, bandara, dan sebagainya) tetapi juga infrastruktur digital dengan proyek palapa ring. Yakni, proyek pembangunan jaringan serat optik nasional yang akan menjangkau sebanyak 34 provinsi, 440 kota/kabupaten di seluruh Indonesia dengan total panjang kabel laut mencapai 35.280 kilometer, dan kabel di daratan adalah sejauh 21.807 kilometer.

Dampak dari pembangunan ini amat sangat positif. Arus ekonomi berdenyut sampai pelosok. Pergerakan manusia, barang dan jasa menjadi lancar sehingga turut menopang perekonomian nasional. Namun, dampak positif pembangunan ini memberi impact laten terhadap moralitas masyarakat setempat. Karena pembangunan, mau tidak mau, suka tidak suka akan membuka arus keterbukaan bahkan keliaran informasi. Akses internet yang merangsek sampai ke pelosok, tidak hanya membawa konten positif tetapi juga membawa video porno yang kini bisa dinikmati dalam genggaman tangan.

Bagi saya, pembangunan yang menyeluruh dan berkelanjutan adalah pembangunan yang juga memperhatikan dampak pembangunan itu sendiri pada hubungan sosial kemasyarakatan. Misalnya, ketika pemerintah (entah pusat atau daerah) membangun jalan di suatu desa, ada tim lain yang melakukan sosialisasi dampak keterbukaan informasi yang bisa menimbulkan potensi pelecehan atau kekerasan seksual atau juga sosialisasi bahaya HIV/AIDS karena pembangunan juga memobilisasi orang dari luar daerah.

Lalu bagaimana dengan praktik pelecehan seksual yang terjadi di daerah urban? Menilik kasus Kalijodo dan tempat sejenisnya, prostitusi artis atau yang bermimpi jadi artis, dan fenomena cabe-cabean, tentu trennya berbeda. Mereka ini, yang sebenarnya juga korban (atau mengorbankan diri demi setumpuk alasan klise), lebih memilih untuk “mencari,” “memanggil,” “mendatangi,” “menerima telepon/ panggilan,” “membuka baju dan celana,” dan tentunya “menikmati.” Pilihan katanya tentu aktif sebagaimana gerak yang mereka tunjukkan kepada khalayak.

Golongan ini, menjadi seperti itu juga terdampak dari derasnya arus pembangunan dan gencarnya arus informasi. Bedanya, mereka ini memanfaatkan canggihnya pembangunan untuk memuluskan niat mereka. Mau buktinya? Masak perlu dicarikan, kan kalian udah pada tahu hehehe… Ada banyak akun nakal bertebaran di media sosial, mulai dari facebook, twitter, hingga yang kini lagi ngetren di instagram. Nah, kira-kira mereka yang aktif ini mempan gak ya diberi sosialisasi dan ceramah? Pasti tidak efektif!

Kesimpulannya, jangan (pura-pura) gagap dan kaget dengan seluruh peristiwa ini. Saat kita memutuskan untuk maju dengan melakukan pembangunan di berbagai sektor sudah pasti ada dampak di ranah sosial kemasyarakatan. Ketika dunia pendidikan merosot bahkan menjadi bancakan korupsi, saat kearifan lokal digerus oleh kerakusan, bahkan ikatan keluarga menjadi renggang, di situlah titik empuk bagi setan syahwat melancarkan aksinya.

Facebooktwittergoogle_plusby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.

Leave a Reply