Ada Pelatih Indonesia Dibalik Juara Ganda Putra Rusia

Facebooktwittergoogle_plusinstagramby feather

Vladimir Ivanov dan Ivan Sozonov menorehkan catatan emas bagi karier mereka maupun untuk negaranya Rusia. Tidak dikenal sebagai negara pebulu tangkis, mereka berhasil menjadi juara All England 2016 pada Minggu (13/3/2016).

Datang sebagai pemain non unggulan, Ivanov/Sozonov tampil meyakinkan dengan menumbangkan unggulan ke-8 asal Denmark, Mads Conrad-Peterson/Mads Pieler Kodling (babak kedua), Liu Xiaolong/Qiu Zihan non unggulan asal Tiongkok (perempat final), dan Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong unggulan pertama dan juara bertahan dari Korea Selatan (semifinal).

Di final Ivanov/Sozonov  berhasil meruntuhkan harapan juara Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa dari Jepang setelah menang 21-23, 21-18, 21-16 dalam 1 jam 11 menit.

Gelar juara ini tidak didapat instan oleh Ivanov/Sozonov. Keberhasilan selalu menjadi konsekuensi dari sebuah proses yang panjang. Tidak hanya bagi negara Rusia, negara penghasil pebulutangkis seperti Indonesia juga harus berjuang keras untuk bisa berhasil. Bayangkan, Ivanov/Sozonov juara setelah empat kali keikutsertaan sebelumnya (2012-2015), mereka selalu langsung tumbang pada babak pertama.

Tak dinyana, keberhasilan Ivanov/Sozonov tidak lepas dari polesan mantan pemain yang sekarang menjadi pelatih bulu tangkis dari Indonesia, Atik Jauhari. Pria kelahiran Tangerang 14 Agustus 1949 itu sejak 2011 menjadi pelatih tim nasional bulu tangkis di Rusia. Kolaborasi pelatih hebat dan semangat juang pemain berbuah prestasi yang membanggakan!

Atik Jauhari
Atik Jauhari

Liga Mahasiswa mencatat, saat menjadi pemain Atik Jauhari berpasangan dengan salah satu pemain legendaris Indonesia, Christian Hadinata. Tiga tahun setelah menyabet gelar juara nasional untuk nomor ganda putra pada tahun 1971, Atik memilih menjadi tim nasional bulu tangkis Indonesia hingga tahun 1999.

Talenta kepelatihannya teruji setelah mampu mencium bakat Liem Swie King, Icuk Sugiarto, Hastomo Arbi, Eddy Kurniawan, Hermawan Susanto, Ardy Wiranata, Alan Budikusuma, dan Fung Permadi. Kemudian Tjun Tjun/Johan Wahjudi, Bobby Ertanto/Hadibowo, Imay Hendra/Bagus Setiadi, Eddy Hartono/Gunawan, Ricky Subagja/Rexy Mainaky, Antonius/Denny Kantono, Candra Wijaya/Sigit Budiarto, Tony Gunawan/Halim Haryanto, dan Candra Wijaya /Tony Gunawan. Mereka berkontribusi besar dalam mempersembahkan 7 Piala Thomas kepada Negara Indonesia.

Berjaya di tanah air, Atik dikontrak menjadi pelatih timnas bulu tangkis Swedia (1999-2004). Setelah itu ia kembali ke Indonesia (2004-2006) kemudian melatih di Thailand. Di sana ia berhasil memoles Bonsak Poonsana menjadi pemain tunggal putra yang disegani. Berhasil di Thailand ia melatih di India dan sukses mengantarkan Saina Nehwal ke peringkat pertama dunia. Dan kini, sejak 2011 Atik didaulat menangani timnas bulu tangkis di negeri Beruang Putih.

Apa yang telah dicapai Rusia melalui pemainnya Ivanov/Sozonov  memberi pelajaran kepada kita betapa pentingnya proses dan kerja keras untuk sebuah keberhasilan. Indonesia sebagai negara pebulutangkis tidak memberi jaminan akan selalu berhasil di bidang ini kalau tidak ada kerja keras di semua lini. Kondisi serupa dengan kita adalah Malaysia yang stangnan. Para pemain Negeri Jiran tersebut tenggelam di All England 2016.

Facebooktwittergoogle_plusby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.

Leave a Reply