Keputusan Berisiko Demi Momen Gerhana Matahari

Facebooktwittergoogle_plusinstagramby feather

Peristiwa gerhana matahari total di Indonesia menimbulkan eforia tersendiri. Dikekang dan dibodohi dengan berbagai mitos pada tahun 1983, kini 33 tahun kemudian peristiwa langka ini disambut gegap gempita.

Saya sendiri sangat menantikan momen ini. Perangkat kamera yang saya miliki rasanya cukup untuk mengabadikan tiap detik pergerakan gerhana. Pengalaman memotret gerhana matahari membuat saya percaya diri.

H-1 saya kaget. Saya baru mengetahui bahwa untuk motret gerhana kamera juga perlu dilindungi. Takut ada banyak orang yang tidak tahu seperti saya, maka saya buat tulisan “Hati-hati, Motret Gerhana Matahari Bisa Merusak Sensor Kamera Anda.”

Lalu, solusi apa supaya saya bisa tetap motret gerhana? Tidak ada solusi. Satu hal yang pasti, saya akan pulang ke Bogor, bawa kamera dan hasil rontgen. Ke Bogor karena hari libur, bawa kamera karena ada rencana joging sambil hunting di Kebun Raya, dan bawa hasil rontgen karena siapa tahu berguna untuk melihat gerhana.

Pagi hari tanggal 9 Maret 2016, di saat jadwal gerhana, kami bangun. Bangun aja. Mau joging malas. Mau tidur lagi sudah gak ngantuk. Akhirnya nonton TV untuk liat gerhana matahari. Jam 06.10 saya iseng keluar rumah. Cuaca sangat bagus. Matahari bersinar cerah di depan rumah, seperti biasa. Iseng-iseng, saya ambil hasil rontgen. “Wow, matahari sudah mulai cuil,” teriak saya ke isteri dan adik saya.

Entah apa yang menggerakkan saya: kamera saya ambil, aktifkan, lalu menempelkan hasil rontgen di ujung lensa. Sejurus, kamera sudah mengarah ke matahari. Jepret..jepret…dan berhasil.

Hasil rontgen saya potong-potong. Saya bagikan dan masing-masing mendapat 4 potong untuk melihat gerhana. Tepat pukul 07.21 sebagaimana tulisan saya “Berikut Daftar Lengkap Gerhana Matahari Di Seluruh Indonesia”, kami menyaksikan puncak gerhana matahari sebagian. Rasa bahagia sungguh membuncah. Kami bersorak riuh rendah, di tengah kompleks rumah yang sepi.

Sesaat setelah momen berlalu, saya kembali sadar bahwa keputusan untuk memotret adalah keputusan berisiko. Hasil rontgen bukanlah filter yang ideal untuk melindung sensor kamera maupun retina mata. Untuk pembaca, jangan pernah hal ini ditiru. Kalau kesempatan menyaksikan gerhana matahari datang kembali, saya akan mempersiapkan diri dengan jauh lebih baik. Saya pun tidak akan lupa membawa lensa tele dan tripod yang saya tinggal di Jakarta.

Apapun yang telah terjadi, satu hal yang pasti peristiwa gerhana adalah peristiwa yang membahagiakan, peristiwa yang menyatukan bagi kami, momen yang tepat untuk mengangkat syukur kepada Dia yang Mahakuasa.

Berikut hasil jepretan saya:

IMG_3442 IMG_3484

IMG_3521 IMG_3528

IMG_3565 IMG_3567

IMG_3627 IMG-20160309-WA0003

IMG-20160309-WA0011

Facebooktwittergoogle_plusby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.

Leave a Reply