Mau Ke Sawarna, Pilih Ngeteng atau Berkendara Sendiri?

Facebooktwittergoogle_plusinstagramby feather

Mentari menuju ke Barat dengan jingganya. Memulas langit dan bumi. Mengisi sisi relung semesta dengan membiarkan sisi lain misteri di Timur. Hati terus berdoa memekik, “Aku ingin mandi gelombang laut bersabun surya!”

Jam menunjukkan pukul 17.30 saat saya masih dibonceng ojek menembus jalan bergelombang berbukit-bukit. Sepanjang jalan banyak pohon jati dan cengkeh membuat syahdu perjalanan. “Penduduk sini mata pencariannya memang berkebun. Ada juga yang bertani dan nelayan,” ujar sang ojek.

Asa yang terus dijaga ditambah usaha ojek memaksimalkan laju motornya, membuat saya berkesempatan menikmati pemandangan matahari terbenam di tepi Pantai Tanjung Layar. Sebuah tempat di jajaran pantai selatan yang menyembunyikan keindahan alami, tepatnya berada di Desa Sawarna, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Banten. Tidak hanya pantainya, di desa wisata ini kita pun bisa memanjakan jiwa kita dengan keindahan hutan suaka alam dan berbagai goa kapur.

Pantai Sawarna di Pagi Hari
Pantai Sawarna di Pagi Hari

Surga Pencinta Peselancar

Desa Sawarna mempunyai wisata Pantai Ciantir dan Pantai Tanjung Layar. Kedua pantai ini, baik Ciantir yang berpasir maupun Tanjung Layar yang berbatu karang, menampung kekhasan pantai bagian selatan Pulau Jawa yang berombak besar. Apalagi Pantai Ciantir memiliki garis pantai yang panjang dengan hamparan pasir putihnya.

IMG_0642 IMG_0638 - Copy

Sedangkan Pantai Tanjung Layar menawarkan spot yang sangat menarik untuk para pengunjung menantikan sunset. Ada banyak fotografer datang ke sini untuk mengabadikan peristiwa alam yang sangat langka ditemui di tempat lain. Suasana alam semakin syahdu karena ada dua batu karang menjulang yang bentuknya seperti layar kapal.

Itulah mengapa jauh sebelum wisatawan domestik menginjakkan kaki ke Sawarna, pelancong dari luar negeri telah datang untuk berselancar (surfing) dan menikmati alam yang menggoda. Mereka menganggap ombak pantai di Sawarna menjadi salah satu yang terbaik di dunia.

IMG_0691 IMG_0577Melihat potensi wisata, Pemerintah Daerah menetapkan Desa Sawarna sebagai desa wisata binaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Banten pada tahun 2000. Kala itu, menurut Pelaksana Tugas Kepala Desa Sawarna Suhanda, pihaknya telah membangun beberapa saung dan lesehan di tepi Pantai Ciantir. Setahun berikutnya, pada 2001, pemerintah mengaspal jalan menuju Sawarna, yang sebelumnya masih jalan berbatu.

Tidak mengherankan, sampai sekarang saja, memang hanya orang-orang yang gemar berpetualang yang mau menghabiskan waktu berjam-jam menuju Desa Sawarna. Itulah yang saya alami dalam dua kali perjalanan menuju Sawarna.

Sunset di Sawarna
Sunset di Sawarna

Naik Kendaraan Umum

Apa yang saya bagikan di atas adalah pengalaman pertama kami mengunjungi Sawarna pada 6-8 Juli 2011. Saat itu kami menggunakan transportasi umum dari Jakarta, alias ngeteng. Berikut adalah jejak perjalanan yang memakan waktu hampir 9 jam itu.

Rabu, 6 Juli 2011 jam 9.30 berangkat dari Stasiun Cikini menuju Bogor dengan tiket Rp. 7.000,- (sekarang Rp. 5.000), sampai jam 11.00. Lalu perjalanan dilanjutkan ke Terminal Baranangsiang Bogor naik angkot @ Rp. 2.500 (masih sama). Limabelas menit kemudian kami sudah berada di dalam bis MGI non AC jurusan Terminal Pelabuhan Ratu dengan tarif @ Rp. 20.000 (@ Rp.25.000 yang AC). Kami sampai jam 15.15. Sampai di sini perjalanan lancar dengan aspal yang relatif mulus. Sepanjang perjalanan, hambatan hanya terjadi saat mendekati Sukabumi, karena melewati pasar dan banyak truk. Maklum daerah itu kawasan industri.

Sunrise di Sawarna
Sunrise di Sawarna

Ketika bis MGI sampai di Terminal Pelabuhan Ratu, kami dikejutkan oleh beberapa orang dan ojek menyerbu pintu masuk bis. “Mau ke mana A, mau ke mana Teh..hayukk naik ojek, hayuk naik bis ini,” kata mereka. Kami bersikap santai dan berusaha untuk tidak menunjukkan ekspresi sebagai orang baru. Langkah kami mantap menuju pintu keluar terminal dan mencari mobil ELF yang akan membawa kami ke arah Bayah.

Setelah bertemu dengan ELF, kami langsung naik dengan harapan langsung berangkat. Tapi nyatanya, baru pukul 16.30 kami berangkat. Dalam waktu hampir satu jam itu, kami “ditipu” oleh sopirnya, yang beberapa kali menjalankan mobil, seakan maju berangkat tapi kemudian mundur lagi, maju lagi dan mundur lagi. Setelah benar-benar penuh, sampai ada yang bergelantung, baru benar-benar berangkat.

Saat mobil berangkat, kami berpesan pada sopir dan kenek bahwa kami akan turun di Simpang Ciawi. Tepat jam 17.30 kami sampai dan membayar ongkos @ Rp. 13.000. Kemudian perjalanan diteruskan naik ojek ke Sawarna @ Rp. 15.000. Setengah jam ke depan kami sudah sampai di rumah Bapak Endan dan Ibu Nenda, pemilik Saung Chlara, tempat kami akan bermalam. Karena sudah sore, kami sudah dijemput oleh 2 ojek yang dikirim oleh Ibu Nenda. Terkait dengan ojek, sebaiknya kita tahu tarifnya karena ada potensi para tukang ojek mematok tarif yang sangat tinggi.

Untuk menginap di Sawarna, ada beberapa homestay milik masyarakat dengan tarif rata-rata Rp 100.000 per orang per hari dengan makan tiga kali (kalau sekarang belum update). Kami sendiri memilih menginap di homestay Chlara yang memilih desain saung bambu berpanggung. Salah satu hal unik, untuk menuju kawasan pantai, kami harus melintasi jembatan gantung menyeberangi Sungai Cisawarna, berjalan kaki sejauh satu kilometer. Dalam perjalanan yang ditempuh selama 20 menit, kami melewati sawah nan hijau di kiri kanan jalan setapak dan rumah-rumah penduduk berdinding bambu.

 

Jalur biru dari Jakarta menuju Bogor-Sukabumi-Pelabuhan Ratu-Sawarna. Jalur abu-abu dari Jakarta ambil jalur ke Tangerang via Tol Merak
Jalur biru dari Jakarta menuju Bogor-Sukabumi-Pelabuhan Ratu-Sawarna. Jalur abu-abu dari Jakarta ambil jalur ke Tangerang via Tol Merak

Sawarna tidak hanya menawarkan wisata pantai dan persawahan yang menggoda, tapi juga ada wisata gua kapur. Ada 2 gua yang layak dikunjungi, yakni Gua Lalay dan Gua Lawuk. Menurut sejarahnya, Gua Lalay bermula dari adanya retakan pada batu gamping akibat pengaruh getaran tektonik. Bagian dasar gua ini merupakan sungai bawah tanah yang berlumpur dengan ketebalan 10 sampai 15 cm. Panjang gua diperkirakan sampai 1000 meter. Dalam bahasa sunda, Lalay artinya Kelelawar.

Sedangkan Goa Lawuk memanjakan kami dengan keindahan stalagnit dan stalaktit yang sangat luar biasa. Gua ini lebih sulit dicapai karena posisinya yang agak tinggi di pinggir bukit. Di sini kamipun dibuat kagum dengan keindahan stalaktit yang terbentuk dari tetesan air yang mengenai batuan gamping.
Kesan pertama di Sawarna sangat menggoda. Hampir tidak ada cela, mulai dari berangkat sampai kami pulang. Hanya saja, saat hendak meninggalkan Sawarna, terasa ada yang hampa. Karena tidak ada souvenir khas yang bisa kami beli untuk kenang-kenangan dan buah tangan buat teman-teman.

Menggunakan Mobil Pribadi

Itu perjalanan dengan transportasi umum, bagaimana dengan naik kendaraan pribadi? Karena penasaran kami memutuskan untuk naik mobil pribadi pada tanggal 27 Agustus 2011. Dengan  menggunakan Innova tahun 2011 kami meninggalkan Grand Wijaya Center Jakarta Selatan jam 6.30 menuju Sawarna.  Mari kita ikuti perjalanannya.

Kami memilih untuk masuk Gerbang Tol Tomang di depan DPR dengan tarif Rp. 6.500. Beberapa menit kemudian kami masuk ke Gerbang Tol Karang Tengah bertarif Rp. 4.000 lalu mampir di rest area untuk mengisi bensin sebanyak Rp. 250.000 sekalian untuk pulang.  Perjalanan dengan lalu lintas sepi itu dilanjutkan ke Tol Cicurug, dan keluar Serang Timur dengan tarif Rp.18.000.

Pantai Tanjung Layar di Sawarna
Pantai Tanjung Layar di Sawarna

Setelah keluar tol, kami mengikuti penunjuk arah Pandeglang, lalu ke arah Malimping. Sayangnya, tidak ada penunjuk jalan menuju Malimping, jadi ikuti saja penunjuk menuju Labuan atau Tanjung Lesung. Namun, hati-hati dan terus awas dengan penunjuk jalan, karena di satu pertigaan ada penunjuk arah menuju Malimping, arah belok ke kiri tajam. Kalau terlewat, kita akan nyasar ke Labuan.

Saat masuk Malimping, jalan yang awalnya mulus, berubah jelek. Jalan antara Cileles-Malingping sepanjang 27 kilometer banyak sekali yang rusak, berbatu-batu, dengan kemiringan jalan 60 derajat dan di beberapa titik ada perbaikan jalan sehingga hanya dipakai satu jalur. Serasa melakukan off road! Inilah yang membuat laju kendaraan tersendat. Selain itu, hambatan juga berasal dari ramainya Pasar Bojong dan Pasar Picung. Menurut saya, jalur ini tidak direkomendasikan untuk dilewati malam hari, selain jalan yang jelek dan sepi juga di beberapa titik tidak ada lampu penerang jalan.

Kondisi jalan seperti ini menjadi salah satu persoalan utama yang menyebabkan Sawarna tetap “tenggelam.” Namun, selepas Malingping, jalan beraspal dan mulus hingga kota Kecamatan Bayah. Di sini pemandangan indah pantai selatan sudah mulai dapat dirasakan. Misalnya di Pantai Pasir Putih, Desa Cihara yang memiliki beberapa gubuk penjual makanan. Juga tampak ada wisma yang tampak besar, bersih, dan terawat, namun tidak tampak ada yang menginap. Di sinilah kami berhenti untuk makan siang. Waktu menunjukkan jam 11.30.

tanjung layar 14 tanjung layar 13

Perjalanan dilanjutkan ke Bayah. Tepat pukul 12.15, belum jauh meninggalkan Pantai Pasir Putih, kami menemukan sebuah pantai di pinggiran jalan yang sangat indah. Batu-batu karang yang sangat besar menjulang membuat kami banting setir. Kami tidak tahu nama pantai ini. Mau bertanya tapi tidak tampak ada orang, dan juga tidak tampak ada perkampungan. Berikutnya, kami dimanjakan oleh pemandangan pantai dan persawahan yang membuat pikiran serta hati tenang-sejuk.

Akhirnya, rangkaian Pantai Ciantir dan Pantai Tanjung Layar di Desa Sawarna tampak saat kami berhenti di puncak bukit kawasan hutan yang kami lintasi. Garis pantai sepanjang 3,5 kilometer tampak sangat jelas, termasuk dua bukit karang yang menjadi landmark Pantai Tanjung Layar. Tak jauh dari pantai terlihat pula gerombolan kerbau di sawah nan hijau. Sungguh indah suasana alami desa ini.

Tepat jam 13.15 kami sampai dirumah Bapak Endan dan Ibu Nenda. Dengan demikian perjalanan ke Sawarna kira-kira 7 jam, sudah termasuk berhenti di dua pantai untuk menikmati “bersetubuh” dengan alam yang masih perawan sembari foto-foto. Sungguh perjalanan yang menyenangkan.

Sebagai kesimpulan, baik menggunakan kendaraan umum maupun pribadi, semuanya menawarkan petualangan yang tidak ada duanya. Waktu tempuh dengan menggunakan kendaraan umum kira-kira hampir sembilan jam. Biaya yang dikeluarkan khusus transportasinya adalah Rp.115.000 untuk pergi-pulang, satu orang. Sedangkan kalau kita naik kendaraan pribadi, waktu tempuhnya kira-kira tujuh jam dengan biaya Rp.307.000. Sebagai catatan, jalur dengan kendaraan pribadi terbilang sepi walaupun di saat musim mudik.

Tertarik datang ke sana untuk mengisi libur Lebaran? Berikut informasi bagi yang ingin memesan tempat penginapan.

Saung Chlara
CP: Bapak Endan (087773073561) dan ibu Nenda (087772095744 – 087773352044)

Facebooktwittergoogle_plusby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.

Leave a Reply