Mau Ngeteng Ke Karimunjawa, Ikuti Perjalanan Kami!

Facebooktwittergoogle_plusinstagramby feather

Wisata pulau menjadi kegemaran kami. Jiwa tidak saja dimanjakan oleh indahnya landscape, tapi wisata ini juga membawa jatidiri bangsa sebagai negara kepulauan. Salah satu obyek yang menarik dijelajahi adalah Kepulauan Karimunjawa.

Ada banyak cara menuju kepulauan yang terletak di Pulau Jawa ini. Kami memilih ngeteng, atau menggunakan beberapa moda transportasi. Dari Jakarta moda yang dipilih adalah kereta api menuju Kota Semarang.

Perjalanan kereta ke Semarang memiliki landscape berbeda kalau kita menuju ke Yogyakarta. Kalau menuju Kota Lumpia kita disajikan pemandangan pantai dan laut di pesisir utara Jawa, sedangkan kalau ke Yogyakarta kita kerap menjumpai gugusan pegunungan dengan hamparan sawah di sisi selatan Jawa. Dengan catatan: kita memilih jalan di pagi/ siang hari!

Selepas makan siang kami sampai di Stasiun Semarang Tawang. Kami dijemput oleh Mbak Nuke (Sesilia Nuke Ernawati). Mantan wartawan Suara Pembaruan itu menerima kami di rumahnya untuk bermalam. Selain itu, ia menyediakan dirinya untuk menjadi guide sehari mengeliling Kota Semarang.

Perhentian pertama, kami menjajal kuliner Semarang. Saya memilih mangut belut pedas. Makanan yang sudah sangat lama tidak saya jumpai ini sungguh unik,  karena umumnya ikan lele yang dimasak mangut. Selesai makan kami jalan-jalan ke Klenteng Sam Po Kong.

IMG_8639 IMG_8631

Selesai makan dan jalan-jalan, kami datang ke Katedral Semarang untuk Misa Jumat Pertama. Karena misa baru dimulai 2 jam lagi, maka kami putuskan untuk menyeberang ke Lawang Sewu. Inilah kali pertama bagi saya menginjakkan kaki di kawasan simpang lima Semarang yang terkenal itu.

IMG_8832
Lawang Sewu
Katedral Semarang
Katedral Semarang

Sepanjang misa kami sempat ragu apakah bisa sampai ke Karimunjawa. Hujan terus mengguyur Semarang sepanjang sore sampai malam saat misa selesai. Padahal daerah Karimunjawa sangat rentan terhadap cuaca. Perjalanan ke sana bisa dibatalkan jika mendadak ada perubahan cuaca, atau bisa juga wisatawan batal pulang dengan waktu yang tidak ditentukan jika cuaca tidak memungkinkan. Satu keyakinan kami, “Jika Tuhan mengijinkan kami pergi, maka terjadilah.”

Sebelum tidur, Mbak Nuke memesankan kami mobil travel yang akan mengantar kami ke Pelabuhan Kartini di Jepara, Jawa Tengah. Keesokan harinya, tepat jam 7 pagi kami dijemput. Sepanjang perjalanan, Kota Semarang menuju Jepara belum juga mendapat sinar matahari yang cukup. Langit abu-abu terus menggelanyut. Sesekali rintik hujan membasahi kaca depan mobil. Namun kali tetap membulatkan tekad.

Harapan kami membuahkan hasil. Matahari keluar dari peraduannya saat kami sampai di pelabuhan. Perjalanan dilanjutkan ke Karimunjawa menggunakan kapal cepat. Ukuran kabin kapal relatif sempit, apalagi bagi mereka yang membawa tas besar. Apalagi bagi wisatawan asing dari negeri barat yang badannya besar dan umumnya membawa tas ransel besar. Mereka ini jumlahnya dominan di dalam kapal, dibandingkan dengan kami wisatawan domestik. Kami terasa asing di negeri sendiri, hehehe

Karena ini perjalanan pertama ke Karimunjawa, kami memakai agen perjalanan untuk mengatur kami tinggal di homestay mana dan bergabung ke kelompok wisata lain dalam program 3 hari 2 malam. Tentu, kalau kita sudah mengenal pelaku wisata di Karimunjawa lebih baik tidak usah memakai agen karena bianya bisa lebih murah.

Kira-kira 2,5 jam perjalanan kami merapat di Pelabuhan Karimunjawa. Kami dijemput oleh pemilik homestay menggunakan mobil, karena cukup melelahkan untuk berjalan kaki 2 km di bawah terik matahari. Di penginapan yang tampaknya belum lama selesai dibangun, sudah disediakan minuman dan makan siang. Kami diminta istirahat sejenak sebelum memulai petualangan di laut lepas.

Spot Snorkeling

Selama 3 hari 2 malam ada beberapa pulau yang kami kunjungi. Beberapa di antaranya kami lupa, namun alamnya yang tidak pernah kami lupakan. Air laut di sini amat sangat jernih. Saking jernihnya di beberapa spot kita bisa melihat langsung dasar laut, gugusan terumbu karang dengan aneka warna, dan ikan luat yang lucu-lucu. Salah satu teman perjalanan kami bahkan mengatakan, Karimunjawa jauh lebih bersih dan indah daripada Tanjung Benoa di Bali yang sedang naik daun.

Beninggggggggggggg (dua-duanya)
Beninggggggggggggg (dua-duanya)

Kegiatan utama kami adalah snorkeling. Pulau Menjangan Kecil adalah spot terunik yang kami kunjungi. Tidak sekadar melakukan snorkeling, di sini kami bisa memberi makan ikan-ikan di laut lepas secara langsung. Makanan yang disediakan adalah nasi yang juga menjadi jatah makan siang kami. Sayangnya kami tidak bisa lama-lama di spot itu karena arusnya sedang deras.

IMG_0521 Untitled-1

Spot berikutnya yang jaraknya tidak lebih dari 15 menit menjadi tempat foto underwater. Di sini ikannya banyak, terumbu karangnya beragam, namun tidak terlalu dalam. Cocok untuk snorkeling dan sesekali menyelam menikmati kehidupan bawah laut yang begitu mencengangkan.

IMG_0583 IMG_9322

Pulau berikutnya yang kami ingat adalah Pulau Cemara Kecil. Untuk mencapai pulau ini, kita harus membuang jangkar perahu kita-kira 500 meter dari bibir pantai. Kemudian jalan kaki dengan ketinggian air mulai dari 50 cm. Semakin dekat pantai, semakin hati didorong untuk berlari menyambut hamparan pasir putih yang lembut.

Aktivitas pertama yang kami lakukan di pulau seluas 1,5 hektar itu adalah mengeliling pulau. Waktu yang ditempuh tidak lebih dari 30 menit. Walaupun kecil, beberapa sudut terluar pulau tidak berpenghuni ini sungguh asyik dieksplorasi. Ada tempat dengan sedikit gumuk pasir sangat cocok untuk berfoto ria. Di sinilah kami bisa foto berdua sambil loncat dengan latar belakang lautan lepas. Sudut lain cocok untuk bersantai, duduk besandar di bawah pohon kelapa sambil menikmati air segarnya.

IMG_9390 IMG_0565

Pulau Cemara Kecil menjadi salah satu titik perhentian terfavorit kami karena di sinilah tempat para wisatawan singgah sejenak untuk bakar ikan sebagai menu makan siang. Sambil makan kita bisa menikmati landscape keindahan gunung di pulau besar karimunjawa, yang masih sangat hijau dan rindang. Bagi yang ingin mendirikan tenda, tempat ini juga banyak menjadi pilihan para wisatawan.

Lepas bebas di Pulau Cemara Kecil
Lepas bebas di Pulau Cemara Kecil

Titik perhentian lain yang turut menjadi primadona adalah kolam penangkaran hiu di Pulau Menjangan Besar. Sebelum pergi, kami membulatkan tekad menceburkan diri di kolam yang penuh hiu itu. Namun setelah melihat hiu secara langsung, nyali kami pun perlahan menciut. Kami hanya diam di pinggir kolam saat rombongan wisatawan silih berganti masuk ke kolam. Sampai suatu ketika, keberanian itu pun muncul. Perlahan namun agak tidak pasti, kami pun berada di kolam kira-kira 3 menit. “Huhhh…menyenangkan walau kaki gemetar, hehehe…”

IMG_9109 IMG_9076

Bukit Joko Tuo

Selain wisata pulau, Karimunjawa menawarkan beberapa tempat wisata darat. Satu tempat yang kami kunjungi adalah Bukit Joko Tuo. Bukit yang dekat dengan penginapan kami ini menawarkan spot yang sangat menarik untuk menikmati sunset di atas bukit. Penduduk setempat juga menyediakan saung-saung kecil di sini. Sambil duduk menikmati semilir angin, mata dimaja dengan landscape gugusan pulau dan Pelabuhan Karimunjawa.

Sunset dari puncak Bukit Joko Tuo
Sunset dari puncak Bukit Joko Tuo
Kerangka Joko Tuo
Kerangka Joko Tuo

Pesona lain di sini adalah terdapat kerangka ikan hiu kuno, yang oleh penduduk setempat dinamai ikan joko tuo (jejaka tua). Ada juga tasbih raksasa yang berbahan batu. Untuk masuk di kawasan Bukit Joko Tuo ini dikenakan tarif Rp. 10.000 per orang.

Ketika malam menjelang saatnya gerilya makanan. Spot andalan kami adalah alun-alun. Ada banyak penjual ikan laut segar yang siap untuk dibakar. Walau di rumah penginapan sudah makan, tidak berarti kami melewatkan santap malam di alun-alun. Ikannya manis, segar, dan yang terpenting murah sekali. Rata-rata harga 1 ekor ikan atau seporsi udah adalah Rp. 25.000 dalam kondisi siap santap. Sikattttttt!!!!

Stasiun Semarang Tawang saat kami pulang

Petualangan di Karimunjawa harus berakhir. Ada waktu untuk kembali pada rutinitas. Kembali mencari sesuap nasi, segenggam berlian. Semoga perjalanan kali ini menjadi salah satu titik terang dalam rangkaian titik hidup kami. Tunggulah kami di petualangan berikutnya!

 

Facebooktwittergoogle_plusby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.

Leave a Reply