Kata Pengantar

Facebooktwittergoogle_plusinstagramby feather

Di tengah dunia digital, media cetak jauh dari ancaman kiamat. Kawasan Asia menjadi daerah yang perkembangan media cetaknya tumbuh paling pesat. Padahal, di kawasan ini pulalah teknologi informasi dengan segala perangkat gadgetnya berkembang signifikan.

Hal ini dilontarkan dalam Kongres Koran Dunia Ke-65 di Bangkok, Thailand tahun 2013. Acara yang diselenggarkan  oleh World Association of Newspapers and News Publishers (WAN-IFRA) itu dihadiri lebih dari 1.500 praktisi media dari 66 negara.

Forum menyepakati bahwa masa depan media terletak pada keterikatan pembaca dengan media itu sendiri. Untuk koran, keterikatannya dengan pembaca sampai tahun-tahun mendatang sangat bagus. Hal tersebut ditunjukkan dengan fakta bahwa setengah populasi dunia yang berusia dewasa membaca koran setiap hari.

Atau sekurang-kurangnya, ada 2,5 miliar orang berlangganan koran cetak. Jumlah ini berbanding terbalik dengan mereka yang memilih media digital, yakni hanya 600 juta orang. Tingginya minat terhadap media cetak berbanding lurus dengan tingginya pendapatan di sektor ini, yakni mencapai lebih dari USD200 miliar setahun atau kira-kira Rp1.960 triliun.

Namun demikian, Vincent Peyr’gne, CEO WAN-IFRA, mengingatkan supaya para pelaku industri media cetak tidak besar kepala. Karena industri ini akan menghadapi tantangan yang perlu dicermati dan disikapi mulai sekarang. Menurutnya, tantangan terbesar penerbit media cetak adalah keterlibatan pembaca dengan media. Diperlukan daya inovasi dan kreatifitas yang mumpuni dari penerbit untuk merangkul para pembacanya.

Hubungan harmonis antara penerbit dan pembaca sebagaimana bergaung dalam WAN-IFRA pada dasarnya menjadi hakikat dalam diri media internal (in-house magazine). Media internal yang menjadi salah satu produk media cetak, memiliki peranan penting dalam membangun komunikasi dua arah.

Komunikasi dua arah dalam konteks media internal memiliki konteks ke dalam dan keluar. Ke dalam menunjukkan relasi antara pembuat media internal dengan khalayaknya. Pembuat bisa dari unsur perusahaan, institusi, atau komunitas. Hubungan ke dalam ditunjukkan dengan relasi antara pemilik perusahaan dengan karyawannya, pemimpin instansi dengan bawahannya, dan pemimpin komunitas dengan anggotanya. Sedangkan ke luar, relasi antara pembuat media internal dengan masyarakat luas.

Khusus dalam konteks perusahaan, keberadaan media internal memiliki nilai strategis seiring dengan perubahan paradigma dalam diri perusahaan. Saat ini, karyawan tidak lagi dipandang sebagai alat produksi, tetapi aset atau investasi perusahaan yang diperkenankan untuk ambil bagian dalam proses pengambilan keputusan (bottom-up).

Pola baru relasi pemilik/pemimpin perusahaan dengan karyawannya itu difasilitasi dengan kehadiran media internal. Sebuah informasi yang dihembuskan oleh top management dapat disampaikan melalui media internal, dan melalui media yang sama pula karyawan dapat memberikan tanggapan atau masukan.

Media internal pun menjadi penghubung antara kepentingan perusahaan, institusi, dan komunitas dengan masyarakat luas. Sebuah kebijakan atau keputusan dapat disampaikan kepada masyarakat melalui media internal. Begitu pun dengan masyarakat, melalui media internal mereka dapat memberikan masukan kepada pemimpin perusahaan atau institusi terkait.

Niat baik yang disampaikan kedua belah pihak hanya akan menjadi wacana mengambang jika media internalnya tidak menarik. Misalnya, bahasanya susah dimengerti, tampilan dan tata letaknya berantakan, atau dicetak dengan kualitas yang rendah. Media yang dibuat dengan susah payah akan berakhir di kotak sampah atau hanya menjadi alas debu di sudut meja kerja, pesan yang ingin dibagikan pun tidak sampai.

Inilah  yang menjadi persoalan klasik sekaligus “abadi” bagi mereka yang hendak menerbitkan majalah internal. Berikut apa saja yang umumnya menjadi tantangan dalam membuat media internal.

  1. Keterbatasan SDM. Artinya pengelolaan majalah dilakukan bukan oleh orang yang memiliki keahlian di bidang komunikasi dan jurnalistik;
  2. Pengelolaan majalah dikerjakan oleh satu orang, yang tidak mempunyai keilmuan komunikasi dan pemahaman mengenai pengelolaan majalah;
  3. Majalah tidak dikelola secara disiplin, sehingga terbit tidak tepat waktu, unsur faktualitasnya terlampaui;
  4. Pemberian apresiasi tidak dilakukan secara tepat dengan kualifikasi berbeda;
  5. Pembagian dan pemberian nama rubrikasi tidak jelas;
  6. Penentuan topik dalam setiap terbitan tidak mengutamakan hal-hal yang berkaitan dengan perusahaan, namun mengandalkan callender event nasional atau internasional;
  7. Sampul majalah tidak mencerminkan isi majalah, baik secara tulisan maupun visual;
  8. Kelengkapan struktur dan alur kerja inti tidak terpenuhi sehingga kualitas majalah sangat rendah, dll.

Sadar akan keadaan ini, saya memberanikan diri membuat buku online ini berdasarkan pengalaman. Saya didukung penuh oleh Heribertus Suharyanto seorang executive editor dan ghostwriter di Jurutulis.com dan pendiri Littera Institute.

Melalui buku online yang ditulis berseri ini, saya mengajak semua insan praktisi kehumasan atau public relation untuk mendalami media internal, termasuk di dalamnya media sosial. Kenapa mereka? Karena, media internal tidak lain merupakan salah satu medium komunikasi produk kehumasan atau public relation.

Lebih lanjut, saya akan berjalan bersama mereka untuk berlatih jurnalistik yang menjadi esensi dasar media internal. SDM yang tidak menguasai dasar-dasar jurnalistik tidak akan menghasilkan produk media internal yang bagus. Jurnalistik juga menjadi roh dalam penulisan media sosial. Oleh karena itu, prinsip dan keterampilan dalam jurnalistik harus dimiliki insan public relation dalam membuat media internal.

 Untuk memudahkan para pembaca mengerti dan mendorong untuk berlatih, maka saya menyajikan beberapa ikon, seperti:

WIN      : Contoh yang bagus, yang harus terus diperhatikan sebagai praktisi media internal.

WARNING    : Peringatan ada potensi membuat kesalahan

REMEMBER : Menandakan hal penting yang harus Anda ingat

TIP & Trik       : Sebuah tip bagi solusi Anda dalam membuat media internal

Akhirnya, buku yang mengangkat media internal ini memiliki peran yang sangat strategis. Dari sekian banyak media komunikasi, hanya media internal yang mampu menjadi media informasi-komunikasi penguat relasi dengan pelanggan atau masyarakat, sebagai sarana promosi yang elegan dan efektif, serta simbol eksistensi perusahaan, institusi, atau komunitas.

Facebooktwittergoogle_plusby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.

Leave a Reply