To Love Another Person, is To See The Face of God

Facebooktwittergoogle_plusinstagramby feather

Manusia diciptakan unik, berbeda satu sama lain. Pernikahan yang menyatukan dua pribadi pun tidak meniadakan perbedaan mereka. Namun, untuk perkawinan yang lestari, harus ada satu kesamaan yang dipegang sebagai kompas bahtera.

Kami, Sari dan Wawan, memilih sikap resilien sebagai prinsip hidup bersama. Dengan sikap ini, kami ingin sama-sama berkomitmen membangun rumah tangga demi mencapai kualitas pribadi yang lebih baik, secara berkelanjutan meski di tengah hempasan ombak.

Komitmen yang telah dibangun dari berlapis pengalaman selama 5 tahun terakhir ini, berpondasi kepada cinta, harapan, dan pengampunan. Ketiganya membalut proses kami dalam mengenal, memahami, dan menerima satu sama lain. Proses yang sama juga terjadi antara kami dengan keluarga masing-masing.

Karakter dan latar belakang berbeda yang hadir secara hakiki, membuat proses tidak berjalan sesuai skenario bak dongeng putri kerajaan. Pertengkaran, penolakan, dan derai air mata menjadi keniscayaan. Namun kami ingat, bahwa kunci hidup yang lebih baik adalah cinta, harapan, dan pengampunan.

Saat Kursus Persiapan Perkawinan, kami dapat pertanyaan, “Kenapa kamu memilih dia sebagai pasangan? Apa yang kamu harapkan?” Secara terpisah, jawaban tertulis yang kami buat menunjukkan inti yang sama yakni, “Ingin menjadi pribadi yang lebih baik.”

Menjadi lebih baik di hadapan pasangan, keluarga, dan sesama. Lebih dari itu, sebagai pengikut Yesus, kami juga dipanggil untuk menjadi lebih baik di hadapan Allah. Secara ringkas, Yesus telah merumuskannya dalam perintah: Cintailah Tuhan Allahmu dan sesamamu.

Bagi kami, hidup perkawinan adalah panggilan hidup untuk semakin mencintai Allah dengan mencintai pasangan secara eksklusif, mencintai keluarga dan sesama. Selain itu, hidup perkawinan menjadi sarana untuk menghadirkan secara nyata cinta Allah melalui cinta yang diberikan pasangan secara eksklusif, juga diberikan oleh keluarga, dan sesama.

Inilah spiritual yang dirumuskan secara baik oleh novelis Perancis dalam Les Miserables yang dibuat tahun 1862, “To love another person is to see the face of God” (Mencintai pribadi lain berarti melihat wajah Allah). Kami terkesan dengan kalimat tersebut, dan membahasnya bersama selepas menoton Les Miserables yang telah difilmkan (2012).

Allah tetap Allah, dan manusia tidak pernah dapat melihat wajah Allah. Tetapi dalam iman kami percaya bahwa Ia hadir nyata dalam hidup perkawinan kami, dalam untung dan malang, suka dan duka, sehat dan sakit, dengan segala kekurangan dan kelebihan kami, selalu mencintai dan menghormati sepanjang hidup kami. “Tidak ada yang pernah melihat Allah, tetapi jika kita saling mencintai, Allah tinggal di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita,” (1 Yoh 4:12).

* Pengantar di buku misa perkawinan kami

Facebooktwittergoogle_plusby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.

Leave a Reply