KMP dan KIH dalam Teropong Empedokles

Facebooktwittergoogle_plusinstagramby feather

Terkadang kita bingung, kenapa perempuan yang begitu cantik dan muda memiliki suami yang jelek dan miskin. Atau ada opini umum yang mengatakan, orang miskin susah untuk meningkatkan derajatnya karena berjodoh dengan sesama orang miskin.

Memang pendapat ini tidak bisa diterapkan di semua kondisi dan pengalaman semua orang. Contoh ekstrem di atas ditampilkan untuk mempermudah kita dalam memahami sebuah prinsip “Yang sama mengenal yang sama.” Sebuah prinsip filsafat yang kali pertama diungkap oleh Empedokles.

Empedokles adalah seorang filsuf dari mazhab pluralisme, sezaman dengan Anaxagoras. Laki-laki yang lahir di Agrigentum, pulau Sisilia pada abad ke-5 SM (495-435 SM) itu berasal dari golongan bangsawan. Penganut aliran religius Orfisme itu, memiliki ketertarikan dengan alam semesta beserta isinya.

Hal ini tidak mengherankan karena menjadi tren di kalangan para filsuf awal. Mereka dan juga “masyarakat asli” suatu daerah, umumnya merefleksikan asal muasal dan rona hidup beserta alam semesta dengan seluruh kejadiannya ke dalam cerita penciptaan, dongeng, hikayat, teori bahkan sampai ke hukum alam.  Hasil pemikiran ini terus berkembang dan menjadi pondasi peradapan di wilayah tersebut. Coba bandingkan dengan kisah-kisah rakyat di Indonesia, yang berkembang menjadi identitas budaya daerah tersebut.

Empedokles pun memiliki ketertarikan yang sama terhadap alam semesta. Di saat filsuf lain berkeyakinan bahwa prinsip yang mengatur alam semesta adalah tunggal, ia meyakini ada empat anasir atau zat yang menyatukan. Keempat anasir tersebut adalah air, tanah, api, dan udara, yang satu sama lain berbeda serta berlawanan.

Empedokles (495-435 SM), filsuf yang menelurkan prinsip yang sama mengenal yang sama
Empedokles (495-435 SM), filsuf yang menelurkan prinsip yang sama mengenal yang sama

Keempat anasir tersebut dipisahkan dan disatukan oleh prinsip cinta (menyatukan) dan benci (memisahkan).  Mereka terurai dan menyatu dengan unsur-unsur yang sama, api dengan api, tanah dengan tanah, api dengan api, dan udara dengan udara. Namun ada juga rasa benci yang membuat keempat unsur tersebut terurai. Dari sinilah muncul prinsip “yang sama mengenal yang sama.”

Benda-benda di sekitar kita, termasuk makhluk hidup terdiri dari salah satu, dua, tiga, atau keempat anasir. Mereka bisa bersatu namun juga bisa tercerai  dan kembali ke identitas aslinya. Contoh yang bagus untuk gambaran adalah saat kita membakar kayu. Saat dibakar, kita bisa melihat anasir dengan jelas:  Api (unsur yang membakar), Air (menguap dari kayu yang ditandai dengan bunyi kretek-kretek), Udara (muncul asap), dan Tanah (sisa pembakaran menghasilkan abu).

Kalau kita membahasakan “proses pembakaran” sebagai sebuah peristiwa pemurnian, maka melalui proses tersebut setiap anasir menemukan identitasnya. Pengalaman hidup dengan segala tantangannya akan memurnikan setiap anasir untuk kembali ke jati dirinya. Di lain pihak, anasir/ unsur/ zat/ identitas/ pribadi yang telah termurnikan dan sama itu memiliki kecenderungan untuk saling mendekat dan menyatu.

Refleksi Empedokles tentang empat anasirnya di atas bisa menjadi cermin bagi hidup kita saat ini. Tidak sekadar “membantu” kita untuk kepo pada kehidupan rumah tangga orang, tetapi mampu memberikan penjelasan terhadap realitas politik. Empedokles memberi pencerahan pada kita bahwa ada suatu kesamaan yang mampu menyatukan perempuan cantik dengan suaminya yang jelek, perempuan miskin dengan suaminya yang bangsawan, dan seterusnya.

Masih ingat Koalisi Merah Putih (KMP) Vs Koalisi Indonesia Hebat (KIH)? Partai politik, tokoh-tokoh bangsa, sampai masyarakat luas secara umum terbagi dua. Memilih merapat ke KMP yang mengusung Probowo dan Hatta sebagai capres-cawapres atau ke KIH yang mengusung Jokowi-JK. Mereka yang merapat pasti memiliki suatu kesamaan satu sisi atau banyak sisi dengan koalisi yang dipilihnya. Atmosfir KMP dan KIH juga terus dibawa ke parlemen di saat pemilu presiden telah menentukan Jokowi dan JK sebagai presiden dan wakil presiden Indonesia.

Dalam perjalanan waktu, KMP dan KIH mengalami pemurnian, ujian, dan tantangan. Kita lihat sendiri, anggota KMP do mrotoli, mulai memisahkan diri. Bahkan kini Gerindra telah menyatakan bahwa KMP telah bubar! Ingat, menurut Empedokles anasir yang mengalami pemurnian akan menunjukkan identitasnya. Kita bisa tahu partai macam apa itu Golkar, PPP, PAN, dan mungkin PKS.

Golkar, PPP, PAN, dan mungkin PKS mulai merapat ke KIH. Artinya, ada unsur yang sama sehingga keempat partai tersebut bergabung. Pertanyaan kritisnya, sesungguhnya anasir apa yang membuat mereka sama, sehingga yang sama bisa mengenal yang sama? Ada motivasi apa di sana?

Selanjutnya, di saat terjadi koalisi besar (KIH ditambah 4 partai dari KMP) terbentuk, mereka akan masuk ke tahap pemurnian. Ada tantangan, ujian, tarik menarik antara unsur cinta dan benci, serta konflik. Apakah para anggota koalisi besar ini akan bertahan? Apakah empat partai anggota baru mampu berpegang pada anasir yang menyatukan itu? Ataukah akan kembali do mrotoli? Dan yang menjadi korban adalah masyarakat, taruhannya kesejahteraan rakyat!

Facebooktwittergoogle_plusby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.

Leave a Reply